Internasional

Kesepakatan Dagang AS-RI: Trump Umumkan Pembelian 50 Pesawat Boeing oleh Indonesia

KETIKKABAR.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang besar antara AS dan Indonesia, yang mencakup pembukaan penuh pasar Indonesia bagi produk-produk asal AS serta komitmen pengadaan berskala besar, termasuk pembelian puluhan pesawat Boeing.

Trump menyampaikan, kesepakatan ini tercapai usai dirinya bernegosiasi langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto melalui sambungan telepon, saat Prabowo sedang dalam perjalanan pulang dari Paris menuju Indonesia.

Lewat platform media sosial Truth Social, Trump menyebut bahwa Indonesia berkomitmen membeli 50 unit pesawat Boeing baru, yang sebagian besar merupakan seri Boeing 777.

Meski begitu, tidak disebutkan secara spesifik pihak atau maskapai mana yang akan melakukan pembelian tersebut.

Kesepakatan itu disebut terjadi di tengah ancaman pengenaan tarif impor tinggi dari AS terhadap negara-negara mitra dagangnya.

Langkah Indonesia dinilai berbeda dibandingkan China, yang memilih membalas ancaman tarif Trump dengan menunda pengiriman pesawat dari Boeing.

Baca juga: Indonesia Borong Energi dan Boeing dari AS Senilai Rp551 Triliun

Pada April lalu, Bloomberg News melaporkan bahwa China memerintahkan maskapai-maskapai penerbangannya, termasuk Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines untuk tidak menerima pengiriman pesawat baru dari Boeing.

Langkah ini sebagai respons terhadap kebijakan AS yang menaikkan tarif hingga 145 persen untuk barang-barang dari China.

BACA JUGA:  Runtuhnya Imperium Sheikh Hasina: Rp112 Triliun Disita, Akhir Pahit dari 15 Tahun Berkuasa

Selain itu, Beijing juga disebut meminta kapal-kapal induknya untuk menghentikan pembelian peralatan dan suku cadang pesawat dari perusahaan-perusahaan AS. Saham Boeing sempat turun 0,5 persen usai pengumuman tersebut.

Ketegangan perdagangan ini menyeret industri kedirgantaraan global ke dalam pusaran ketidakpastian. Sejumlah maskapai dan pemasok kini meninjau ulang kontrak bernilai miliaran dolar, dengan beberapa CEO maskapai bahkan mengaku akan menunda pengiriman pesawat daripada harus membayar bea masuk.

Perusahaan-perusahaan seperti Howmet Aerospace ikut memicu perdebatan soal siapa yang harus menanggung biaya tambahan akibat tarif tinggi.

Di tengah kesepakatan besar ini, Boeing masih menghadapi serangkaian krisis reputasi dan operasional. Gulf Times melaporkan bahwa perusahaan kedirgantaraan asal AS itu terus dihantam masalah, termasuk kecelakaan tragis pesawat Boeing 787-8 Dreamliner milik Air India yang jatuh tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad pada 12 Juni 2025.

Masalah Boeing sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu, terutama akibat dua kecelakaan fatal yang melibatkan 737 MAX—Lion Air (2018) dan Ethiopian Airlines (2019) yang menyebabkan grounded global selama hampir dua tahun. Reputasi dan kondisi keuangan perusahaan terpuruk sejak saat itu.

Pada awal 2024, insiden lain kembali terjadi. Sebuah Boeing 737 MAX 9 milik Alaska Airlines kehilangan sumbat pintu saat mengudara, mengulang kekhawatiran lama soal kualitas dan keselamatan.

BACA JUGA:  Geger Penemuan 375 Kg Emas di Rumah Eks Wamen, Diduga Hasil 'Sunat' Dana Negara

Boeing 787 Dreamliner pun tak luput dari masalah. Mulai dari kebakaran baterai hingga cacat produksi, pengiriman pesawat sempat dihentikan. Pada 2021, pelapor internal mengungkap adanya celah berlebihan pada panel badan pesawat yang tidak sesuai standar FAA.

Whistleblower di dalam perusahaan menyebut adanya budaya “menutup-nutupi” masalah keselamatan. Karyawan disebut takut akan pembalasan jika menyuarakan kekhawatiran.

Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan meninggal, menambah tekanan terhadap perusahaan.

Menurut Gulf News, akar masalah Boeing adalah kontrol kualitas yang lemah dan tekanan produksi yang berlebihan. Fokus perusahaan pada kecepatan produksi dinilai mengorbankan keselamatan dan pengawasan.

Baca juga: Trump Klaim Dapat Akses Penuh ke Sumber Daya Indonesia, Termasuk Tembaga

Secara finansial, Boeing mengalami kerugian bersih sebesar 11,8 miliar dolar AS pada 2024, kerugian terbesar kedua dalam sejarah perusahaan.

Meski mengumpulkan cadangan kas sebesar 26,3 miliar dolar AS, utangnya meningkat menjadi 53,9 miliar dolar AS, dengan proyeksi arus kas negatif yang masih berlanjut di 2025.

CEO Dave Calhoun telah mengumumkan rencana pengunduran diri, menandakan potensi perubahan arah dan strategi perusahaan.

Boeing berjanji akan fokus pada perbaikan kontrol kualitas, peningkatan keselamatan, dan membangun kembali kepercayaan dengan regulator serta pelanggan.

Namun, banyak pihak masih meragukan apakah Boeing mampu memulihkan statusnya sebagai pemimpin industri kedirgantaraan global.[]

TERKAIT LAINNYA