Nasional

ICW Soroti Robot Polisi Polri: Proyek Futuristik atau Pemborosan Anggaran?

KETIKKABAR.com – Rencana pengadaan robot polisi oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menuai kritik tajam dari Indonesia Corruption Watch (ICW).

Di tengah sorotan publik atas layanan kepolisian dan seruan efisiensi anggaran negara, pengadaan robot canggih ini dinilai layak dipertanyakan.

“Apakah memang robot-robot ini dibutuhkan karena SDM tak bisa menjalankan tugas tersebut? Atau ini hanya proyek ambisius yang tak relevan dengan kondisi saat ini?” ujar peneliti ICW, Almas Sjafrina, Kamis (3/7/2025).

Kritik di Tengah Sorotan Kinerja Polri

Almas menilai, rencana futuristik ini muncul di saat yang tidak tepat—di tengah maraknya kritik terhadap pelayanan dasar Polri, sorotan terhadap kasus internal, hingga rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

“Di momen HUT Bhayangkara ini, seharusnya Polri hadirkan komitmen nyata reformasi. Bukan justru sibuk pamer robot,” tegas Almas.

BACA JUGA:
Sebut Rata-rata IQ Indonesia 78 dan Salahkan Pendidikan Orang Tua, Pernyataan Kepala BGN Picu Polemik?

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi anggaran terkait pengadaan robot. Berdasarkan peraturan yang berlaku, seperti UU Keterbukaan Informasi Publik hingga Perpres tentang PBJ (Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), Polri seharusnya membuka data pengadaan ini ke publik.

Baca juga: Domino Resmi Jadi Cabang Olahraga! Disahkan Kemenpora, Dihalalkan MUI

Dalam parade HUT ke-79 Bhayangkara di Monas, Jakarta, Polri memamerkan beragam jenis robot di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Wapres Gibran Rakabuming Raka, dan Panglima TNI Agus Subiyanto.

Jenis robot yang ditampilkan:

  • 2 unit robot tank

  • 2 unit robot ropi

  • 1 unit robot drone agrikultur

  • 10 unit robot anjing

  • 10 unit robot humanoid

Fungsi Robot: Dari Bom hingga Face Recognition

Menurut Komjen Dedi Prasetyo, Inspektur Pengawasan Umum Polri, robot-robot ini dipersiapkan untuk berbagai fungsi vital, seperti:

  1. Pengawasan dan pemantauan lokasi berbahaya (gedung kosong, zona bencana)

  2. Penjinakan bom dan penanganan penyanderaan

  3. Evakuasi korban bencana dan kebakaran

  4. Pengumpulan barang bukti forensik (sidik jari, DNA)

  5. Pemantauan lalu lintas dan pelanggaran

  6. Patroli pintar berbasis teknologi face recognition

  7. Deteksi bahan berbahaya (narkoba, bahan kimia, dan bom)

Namun, Dedi menegaskan bahwa semua unit robot ini belum operasional penuh. Saat ini, masih dalam tahap demonstrasi dan sosialisasi hingga tahun 2026.

Setelah itu, robot akan melalui pelatihan, riset bersama universitas, dan uji coba terbatas di lokasi-lokasi strategis seperti Samsat dan SPKT.

“Robot bukan pengganti manusia. Mereka adalah mitra strategis untuk mendukung tugas-tugas kepolisian,” tegas Dedi dalam keterangan resminya.[]

BACA JUGA:
Capaian Kinerja Polri 2025 Tembus 91,54 Persen, Reformasi Internal Dinilai Berhasil

TERKAIT LAINNYA