*Oleh: Maulana Alhamdi Stivani & Dr. Marthoenis, M. Sc, MPH
Pada awal tahun 2025, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teuku Umar Calang di Aceh Jaya melaporkan dua kasus mumps (gondongan). Meskipun jumlahnya tampak kecil, kasus ini menandai kembalinya penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi. Kejadian ini menjadi peringatan bagi sistem kesehatan di Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular yang pernah dianggap terkendali.

Bagi sebagian orang, gondongan mungkin terdengar seperti penyakit anak-anak yang “sudah lama tidak terdengar”. Nyatanya, di tengah era modern dan teknologi medis yang maju, penyakit ini kembali muncul, memberi sinyal bahwa masih ada celah dalam sistem kesehatan masyarakat kita. Aceh, yang dalam beberapa dekade terakhir bergeliat memperbaiki infrastruktur dan layanan kesehatan, kini kembali dihadapkan pada tantangan lama: penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi, tapi luput dari perhatian.
Mumps adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus paramyxovirus. Penyakit ini sangat menular dan menyebar melalui percikan air liur, misalnya dari batuk, bersin, atau berbagi peralatan makan dengan penderita. Virus ini menyerang kelenjar parotis—dua kelenjar penghasil air liur yang terletak di antara telinga dan rahang bawah—yang menyebabkan pembengkakan yang khas dan nyeri di bagian pipi dan leher bawah.
Masa inkubasi mumps berlangsung antara 12 hingga 25 hari. Kebanyakan orang akan mulai menunjukkan gejala sekitar hari ke-16 hingga ke-18 setelah terpapar virus. Meskipun mumps sering kali ringan dan bisa sembuh sendiri, komplikasi bisa terjadi, terutama pada mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella).
Berikut ini adalah beberapa gejala umum mumps yang bisa dikenali:
- Demam ringan hingga tinggi
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Kehilangan nafsu makan
- Nyeri saat mengunyah atau menelan
- Pembengkakan kelenjar parotis (tanda paling khas)
Pada sebagian kecil kasus, mumps dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius, seperti:
- Orkitis, yaitu peradangan pada testis yang bisa terjadi pada remaja dan pria dewasa. Dalam kasus langka, ini bisa menyebabkan infertilitas.
- Ooforitis, peradangan pada ovarium, yang juga bisa menimbulkan nyeri dan masalah reproduksi pada wanita.
- Meningitis atau ensefalitis, yaitu peradangan pada selaput otak atau otaknya sendiri—komplikasi yang bisa berakibat fatal.
- Gangguan pendengaran yang bisa bersifat sementara ataupun permanen.
Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), mumps adalah penyakit yang sangat bisa dicegah jika seseorang mendapatkan dua dosis vaksin MMR dengan cakupan yang baik.
Mengapa Kasus di Aceh Jaya Mengkhawatirkan?
Dua kasus mungkin terdengar sepele dibandingkan dengan ratusan kasus penyakit lain. Namun dalam dunia epidemiologi, satu kasus penyakit yang dapat dicegah vaksinasi bisa menjadi sinyal awal potensi wabah. Ini seperti api kecil di tengah hutan kering: jika tidak cepat ditangani, bisa meluas tak terkendali.
Aceh Jaya sendiri bukanlah wilayah dengan fasilitas kesehatan paling lengkap. Akses terhadap layanan kesehatan di daerah ini sering kali bergantung pada jarak, kondisi jalan, bahkan faktor cuaca. Dalam konteks ini, munculnya kasus mumps bisa menjadi indikasi bahwa cakupan imunisasi di daerah tersebut masih belum optimal.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memang menunjukkan bahwa cakupan imunisasi di beberapa wilayah Aceh masih berada di bawah target nasional. Meskipun pemerintah telah menggulirkan kampanye imunisasi dasar lengkap dan vaksinasi MMR secara berkala, distribusi yang tidak merata dan resistensi dari masyarakat masih menjadi hambatan besar.
Beberapa faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi di Aceh antara lain:
- Akses geografis: Banyak desa di Aceh, terutama yang berada di wilayah pegunungan atau pesisir, sulit dijangkau tenaga kesehatan.
- Kurangnya edukasi masyarakat: Masyarakat masih banyak yang tidak memahami manfaat vaksin secara ilmiah, atau justru terpengaruh isu negatif mengenai vaksinasi.
- Kendala budaya dan agama: Dalam beberapa komunitas, imunisasi masih dianggap tidak penting, bahkan kadang dikaitkan dengan pandangan keagamaan atau tradisi lokal.
Kejadian ini harus dibaca sebagai bahan refleksi untuk sistem kesehatan di Aceh. Jika dua kasus ini tidak terpantau dan tidak dilaporkan secara cepat oleh RSUD Teuku Umar, sangat mungkin akan terjadi penularan lebih luas, terutama di lingkungan sekolah atau pesantren—tempat di mana anak-anak tinggal dan berinteraksi dalam jarak dekat.
Dalam kondisi ideal, sistem surveilans penyakit menular harus mampu menyaring informasi dari fasilitas kesehatan primer dengan cepat, menganalisis data dan mengirimkan tim respons cepat ke lokasi, serta melibatkan lintas sektor untuk menahan laju penularan (misalnya dengan edukasi publik, pembatasan interaksi, vaksinasi darurat). Sayangnya, banyak sistem ini belum berjalan dengan sempurna. Di tingkat puskesmas, masih banyak keterbatasan tenaga dan alat diagnostik. Di sisi lain, sistem informasi dan koordinasi antar wilayah belum sepenuhnya digital dan responsif.
Agar kejadian serupa tidak terus terulang, Aceh memerlukan strategi ketahanan kesehatan berbasis komunitas yang kuat. Beberapa langkah berikut layak dipertimbangkan dan diimplementasikan secara serius:
- Revitalisasi program imunisasi rutin, termasuk mengevaluasi cakupan MMR dan memperbaiki rantai pasok vaksin ke wilayah terpencil.
- Edukasi kesehatan masyarakat berbasis budaya lokal. Kampanye imunisasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan satu arah. Perlu kerja sama tokoh agama, adat, dan tenaga kesehatan untuk menjembatani kepercayaan masyarakat.
- Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di lini depan, baik dari sisi pengetahuan tentang penyakit menular maupun kemampuan komunikasi risiko.
- Modernisasi sistem surveilans kesehatan, dengan memanfaatkan teknologi digital dan data real-time, termasuk melalui pelatihan bagi petugas pelaporan di puskesmas.
- Simulasi dan pelatihan penanganan wabah di tingkat kabupaten dan desa. Kesiapan bukan hanya soal alat, tapi juga soal prosedur dan koordinasi.
Aceh Jaya telah mengingatkan kita bahwa penyakit yang sempat terlupakan bisa datang kembali kapan saja jika kita lengah. Mumps bukan sekadar penyakit anak-anak, melainkan cermin dari kekuatan atau kelemahan sistem imunisasi kita. Dua kasus ini bukan aib, tapi peluang untuk memperbaiki sistem yang ada. Dengan langkah yang tepat dan kolaborasi semua pihak—pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga orang tua—Aceh tidak hanya bisa menahan penyebaran mumps, tapi juga menjadi model ketahanan kesehatan masyarakat yang adaptif terhadap ancaman global. Karena di balik pembengkakan pipi seorang anak, bisa tersembunyi risiko besar bagi kesehatan komunitas yang lebih luas.(*)
Penulis adalah Mahasiswa & Dosen Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas KedokteranUniversitas Syiah Kuala Banda Aceh
















