KETIKKABAR.com – Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menyatakan bahwa vasektomi dan tubektomi hukumnya haram.
“MUI sudah mengeluarkan fatwa, bahwa pemandulan permanen, vasektomi bagi laki-laki, tubektomi bagi perempuan yang tak mungkin disambung kembali untuk bisa pembuahan, itu hukumnya haram,” ucap KH Cholil kepada VIVA, Jumat 2 Mei 2025.
KH Cholil menjelaskan bahwa Islam membolehkan pengaturan jarak kehamilan dengan metode sementara demi kesehatan, seperti pil KB atau IUD.
“Yang boleh adalah mengatur jarak kehamilan, seperti menggunakan pil dalam waktu tertentu atau IUD yang memungkinkan suatu saat bisa dibuka lagi,” tambahnya.
KH Cholil menolak anggapan bahwa kemiskinan bisa diatasi dengan mengurangi jumlah anak melalui pemandulan. Ia menekankan bahwa solusi yang tepat adalah pemberdayaan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Penyelesaian soal kemiskinan itu bukan dengan cara memandulkan. Kalau mengatur jarak kehamilan demi kesehatan, agar tidak stunting, saya setuju. Tapi untuk mengatasi kemiskinan, harusnya dengan membuka lapangan kerja, pelatihan yang cukup, itu solusinya,” tegasnya.
KH Cholil juga mendorong optimalisasi dana sosial dan program CSR perusahaan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan dengan membatasi hak biologis mereka.
“Kalau orang miskin kemudian dimandulkan, bukan berarti tidak ada orang miskin. Kalau tidak diimbangi dengan terciptanya lapangan kerja, maka kemiskinan tetap ada,” tuturnya.
Sebagai informasi, pernyataan KH Cholil ini muncul sebagai respons atas rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjadikan program Keluarga Berencana (KB), khususnya metode vasektomi, sebagai syarat penerimaan bantuan sosial (bansos).
Rencana tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bidang kesejahteraan rakyat bertajuk “Gawe Rancage Pak Kades jeung Pak Lurah” di Pusdai, Bandung, pada Senin 28 April 2025 lalu.
Menurut Dedi, banyak keluarga prasejahtera justru memiliki anak dalam jumlah sangat banyak, bahkan hingga 10 hingga 22 anak, yang akhirnya memperburuk kondisi kemiskinan mereka.
“Saya pernah menemukan satu keluarga punya 22 anak. Saya bertemu orang tuanya yang lagi di kontrakan, anaknya jualan kue. Ternyata sudah punya 10 anak, dan ibunya hamil lagi anak ke-11,” kata Dedi, dikutip dari Antara.[]


















