Internasional

Selat Hormuz Jadi Kunci, Ini 7 Tuntutan Iran kepada Amerika Serikat

KETIKKABAR.com, Jakarta — Iran mengajukan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan damai.

Teheran menegaskan tidak akan kembali ke meja negosiasi selama Washington belum memenuhi tuntutan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menyampaikan posisi negaranya terkait tujuh persyaratan itu dalam percakapan pada Sabtu (31/10/2026).

Sementara itu, pejabat keamanan senior Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan tujuh tuntutan tersebut sebenarnya telah ditetapkan sejak September. Namun, saat itu pemerintah Iran baru mengungkapkan sebagian persyaratannya.

Pada September, Rezaei mendesak AS menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia juga meminta Washington tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran, termasuk melalui kerja sama dengan kelompok yang disebutnya sebagai “para penentang revolusi kami”.

Rezaei menegaskan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz maupun kembali ke meja perundingan sebelum seluruh tuntutan dipenuhi.

“Kita tidak akan kembali ke diplomasi masa lalu, tetapi kita juga tidak sepenuhnya meninggalkan diplomasi,” kata Rezaei dalam pernyataan yang dikutip kantor berita ISNA.

Ia menambahkan, Iran kini tidak lagi ingin bergantung pada kesepakatan yang hanya didasarkan pada janji politik tanpa jaminan pelaksanaan.

Rezaei menyebut pilihan utama Teheran adalah meredakan ketegangan atau de-eskalasi. Meski demikian, ia memperingatkan kemampuan militer Iran akan semakin kuat apabila AS terus memperpanjang perang.

Menurut dia, perang berkepanjangan bukanlah sesuatu yang diinginkan pemerintah Iran.

Namun, Rezaei juga mengancam akan menggunakan kemampuan militer baru untuk menyerang aset-aset AS di kawasan apabila konflik kembali berlanjut. Target yang disebutnya mencakup kabel dan fasilitas kecerdasan buatan (AI).

BACA JUGA:  Redam Eskalasi Houthi, Menteri Pertahanan Arab Saudi Melawat ke Iran

Di sisi lain, Rezaei mengakui blokade berkepanjangan juga akan memberikan dampak buruk bagi perekonomian Iran. Ia menilai pihak yang menganggap negaranya tidak akan terkena dampak blokade bersikap tidak realistis.

Rezaei juga mengungkapkan Iran telah melakukan operasi terhadap kapal-kapal yang disebutnya terlibat penyelundupan.

“Kami telah menargetkan lima kapal milik penyelundup setiap malam selama dua hingga tiga bulan terakhir,” demikian laporan Anadolu mengutip pernyataannya.

Konflik Iran-AS-Israel Memanas

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat setelah kedua negara melancarkan serangan terhadap Teheran pada 28 Februari 2026.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di Timur Tengah yang menjadi sasaran militernya.

Konflik tersebut berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang kemudian tertutup secara efektif. Selat ini merupakan salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia karena menjadi lintasan penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair.

Sebelumnya, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni 2026 untuk membuka jalan menuju kesepakatan perdamaian permanen.

Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan kedua negara mengenai pengaturan keamanan dan navigasi di Selat Hormuz.

Iran kemudian menetapkan tujuh persyaratan sebagai dasar untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut sekaligus melanjutkan perundingan dengan Washington.

Berikut 7 Syarat Iran untuk Berunding dengan AS

Pemerintah Iran menetapkan tujuh tuntutan yang harus dipenuhi Amerika Serikat sebelum Selat Hormuz dibuka kembali dan perundingan dilanjutkan.

BACA JUGA:  Mojtaba Khamenei Ancam Serang Aset AS dan Israel Jika Iran Kembali Diserang

Berikut rinciannya:

  1. Mencabut sanksi ekonomi. AS diminta mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Iran setelah nota kesepahaman (MoU) Islamabad gagal pada Juli 2026.
  2. Mengurangi kehadiran militer AS. Washington diminta mengurangi keberadaan pasukan militernya di kawasan Timur Tengah.
  3. Mengaktifkan kembali pengecualian impor minyak. AS diminta memberlakukan kembali pengecualian pembelian minyak Iran yang sebelumnya diberikan pada Juni sebagai bagian dari MoU.
  4. Membebaskan aset Iran. Washington diminta mencairkan seluruh dana Iran yang dibekukan, termasuk aset yang disimpan di Qatar.
  5. Mengakui rute baru Selat Hormuz. AS diminta secara resmi mengakui jalur pelayaran baru yang ditetapkan Iran dan Oman serta menutup seluruh rute lainnya.
  6. Mengakhiri perang di seluruh front. Iran menuntut penghentian konflik di seluruh kawasan, terutama serangan Israel terhadap Lebanon.
  7. Menghentikan blokade dan campur tangan. AS diminta menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran serta tidak mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.

Iran menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan kelanjutan negosiasi sangat bergantung pada pemenuhan tuntutan tersebut.

Di sisi lain, perkembangan diplomasi masih berlangsung. Reuters melaporkan pada Senin (2/11/2026) bahwa Iran tetap menggunakan proposal tujuh tahap sebagai dasar pembicaraan dengan AS. Teheran bahkan menyederhanakan proposal tersebut agar dapat diterapkan dalam waktu dua hari apabila tuntutannya disetujui Washington.

Meski komunikasi melalui mediator masih berjalan, kedua negara belum mencapai kesepakatan final. []

TERKAIT LAINNYA