Politik

Langkah Prabowo Mulai Mengarah ke Dugaan “Operasi Garis Dalam” Gatot Nurmantyo

KETIKKABAR.com — Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai langkah Presiden Prabowo Subianto mengganti sejumlah pejabat strategis mulai mengarah pada dugaan “operasi garis dalam” yang pernah disampaikan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo terkait relasi kekuasaan Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Hersubeno menyoroti pergeseran jabatan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dari Kapolri menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP), serta Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menjadi Wakil Panglima TNI.

Dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Hersubeno mengingat kembali pernyataan Gatot yang menggambarkan langkah Prabowo masuk ke lingkaran Jokowi sebelum mengambil langkah politik untuk mengambil alih kekuasaan.

“Ini saya jadi teringat misalnya apa yang dikatakan oleh Pak Gatot Nurmantyo, Pak Prabowo itu sedang melakukan operasi garis dalam ini sebagai pasukan Sandi Yuda begitu ya. Dari dia masuk ke dalam lingkaran Jokowi dan pada saatnya kemudian dia melakukan langkah-langkah untuk mengambil alih kekuasaan,” ujarnya dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Senin (19/10).

Menurut Hersubeno, pandangan tersebut sebelumnya banyak mendapat cibiran. Namun, ia menilai perkembangan politik dan pergantian sejumlah pejabat strategis kini membuat pernyataan itu kembali menjadi sorotan.

BACA JUGA:  Polri Targetkan 70 Ribu Polisi Khusus Kehutanan, 586 Personel Rampungkan Diklat

“Nah, ini sekarang orang mungkin mulai banyak yang kalau tadinya kan pernyataan semacam ini banyak yang dicibir, tapi sekarang ini mulai mulai terbukti ya,” ujarnya.

Listyo Sigit dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan pada 1 Oktober 2026. Sementara itu, Maruli Simanjuntak dilantik menjadi Wakil Panglima TNI pada 15 Oktober 2026 dan menjalani serah terima jabatan pada 16 Oktober 2026.

Kedua perubahan jabatan tersebut menjadi dasar yang disoroti Hersubeno dalam menafsirkan arah politik Prabowo.

Meski demikian, penilaian bahwa pergantian pejabat tersebut membuktikan adanya “operasi garis dalam” merupakan interpretasi politik Hersubeno, bukan fakta yang dengan sendirinya dapat dipastikan hanya dari perubahan jabatan.

Hersubeno mengakui masih ada pihak yang kecewa atau marah terhadap langkah Prabowo. Namun, ia menilai perubahan tersebut tetap membuka harapan bagi perbaikan pemerintahan.

BACA JUGA:  Denny Indrayana Desak Prabowo Bersikap soal Gibran: Mundur atau Dimundurkan?

“Saya tahu masih banyak yang marah-marah jengkel kepada Pak Prabowo. Tapi dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang setidaknya memberikan harapan pada kita akan ada perbaikan pada bangsa dan negara ini,” tandasnya. []

TERKAIT LAINNYA