KETIKKABAR.com, Arab Saudi — Serangan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Houthi menghantam kompleks perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran, Provinsi Timur, pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Pada hari yang sama, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, di tengah meningkatnya konflik dan ancaman terhadap fasilitas energi serta jalur pelayaran internasional.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan terhadap gedung administrasi Aramco memicu kebakaran terbatas.
Menurut pernyataan kementerian pada Rabu, 14 Oktober 2026, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden tersebut.
Namun, sumber perusahaan yang berbicara kepada Reuters menyebut sebuah rudal balistik menghantam kompleks kantor pusat Aramco.
Menurut sumber tersebut, tiga lantai teratas sebuah gedung perkantoran mengalami kerusakan dan bangunan itu terbakar.
Kompleks tersebut memiliki peran strategis karena menampung pusat operasi utama Aramco. Fasilitas ini mengawasi jaringan anjungan minyak darat dan lepas pantai, jaringan pipa, kilang, hingga terminal ekspor.
Serangan terhadap Aramco terjadi ketika Houthi meningkatkan peluncuran rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah lokasi strategis di Arab Saudi.
Kelompok yang didukung Iran itu telah melancarkan serangan selama sekitar sepekan sebagai balasan atas dukungan Riyadh terhadap pasukan pemerintah Yaman dalam perang saudara yang kembali berkobar.
Arab Saudi Gempur Depot Bahan Bakar di Sanaa
Ketegangan meningkat setelah koalisi pimpinan Arab Saudi memperingatkan warga Sanaa agar meninggalkan kawasan depot minyak menjelang kemungkinan serangan udara.
Koalisi menuduh kelompok Houthi memanfaatkan fasilitas energi untuk menyimpan persenjataan.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh Houthi menggunakan fasilitas perusahaan minyak Yaman beserta depot bahan bakar bawah tanahnya untuk menyimpan persenjataan rudal dan pesawat nirawak.
Televisi Al Masirah yang dikelola Houthi melaporkan serangan udara koalisi menghantam stasiun pusat Sabah milik Yemen Petroleum Company, sebuah depot bahan bakar di pinggiran Sanaa. Warga juga melaporkan mendengar ledakan di kota tersebut.
Dalam pernyataannya pada Selasa malam, koalisi mengatakan operasi itu bertujuan menetralkan kemampuan Houthi untuk mengancam Arab Saudi, Yaman, dan jalur perairan internasional.
Pihak Houthi sebelumnya memperingatkan akan membalas serangan tersebut. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan setiap serangan Arab Saudi terhadap Sanaa akan dibalas dengan tindakan yang “keras dan menyangkutkan” terhadap ibu kota Saudi, Riyadh.
Menurut laporan Reuters, Saree juga menyebut kompleks kantor pusat Aramco di Dhahran dan sebuah kilang minyak di Riyadh sebagai kemungkinan sasaran.
Kelompok tersebut turut memperingatkan pekerja industri minyak di Arab Saudi agar menjauhi lokasi yang berpotensi menjadi target serangan.
Sementara itu, perusahaan minyak Yaman menyatakan fasilitas penyimpanannya kosong. Perusahaan tersebut mengatakan serangan Saudi tidak akan memengaruhi cadangan maupun pasokan minyak bagi penduduk.
Meski demikian, saksi mata melaporkan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Sanaa. Warga khawatir serangan udara akan memicu kelangkaan pasokan energi.
Kabinet Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebelumnya memperingatkan Houthi bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi atas serangan berulang terhadap kerajaan tersebut.
“Kerajaan tidak akan membiarkan ancaman apa pun terhadap keamanannya atau kebebasan navigasi maritim di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab,” demikian pernyataan kabinet yang disiarkan televisi pemerintah Arab Saudi.
Penerbangan Terganggu, Jalur Energi Terancam
Eskalasi konflik turut mengganggu penerbangan di Arab Saudi. Menurut data Cirium yang dikutip Associated Press (AP), lebih dari 3.120 penerbangan sejak 8 Oktober dibatalkan atau tidak beroperasi. Jumlah itu setara dengan sekitar 41 persen dari seluruh keberangkatan terjadwal.
Serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan Reuters dan AP.
Sementara itu, puing-puing dua rudal Houthi yang berhasil dicegat jatuh di kawasan permukiman Riyadh, melukai empat orang dan merusak 15 rumah.
Konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi. Sedikitnya tiga kapal dilaporkan diserang proyektil di sekitar Selat Hormuz pada Ahad, 11 Oktober 2026, meski belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Di Yaman, pertempuran di sekitar kota Taiz menewaskan enam orang dan melukai 18 lainnya, menurut Kementerian Dalam Negeri Yaman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut konflik memicu pengungsian dan kekurangan kebutuhan pokok. Harga pangan dilaporkan meningkat sekitar 50 persen.
Di tengah meningkatnya ancaman terhadap keamanan Arab Saudi, Riyadh telah meminta dukungan militer lebih besar dari Amerika Serikat.
Namun, Washington sejauh ini membatasi dukungannya pada pertukaran intelijen, identifikasi sasaran, dan perencanaan operasi militer. []











