Internasional

Rudal Antikapal Iran Hantam Kapal di Selat Hormuz, Delapan Marinir AS Terluka

KETIKKABAR.com — Delapan personel Korps Marinir Amerika Serikat (AS) mengalami luka-luka setelah sebuah rudal jelajah antikapal milik militer Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di perairan strategis Selat Hormuz pada 14 September 2026.

Insiden hantaman rudal ini memicu gangguan kesehatan berupa kelelahan akibat menghirup asap pembakaran serta indikasi cedera otak traumatis (traumatic brain injury), sehingga menambah daftar panjang prajurit AS yang terluka sejak eskalasi militer terhadap Teheran bergejolak.

Laporan NBC News yang mengutip tiga pejabat AS menyebutkan bahwa delapan prajurit Marinir tersebut bertugas sebagai bagian dari tim pendaratan batalyon (batalion landing team). Struktur korban mencakup tujuh orang personel tamtama dan satu orang perwira.

Menurut penjelasan para pejabat militer AS, para korban mengalami gejala medis mendadak berupa sakit kepala hebat serta dampak klinis lain yang menyerupai gegar otak akibat guncangan ledakan dan asap di lokasi kejadian.

Meski demikian, tidak ada satu pun dari kedelapan personel tersebut yang mengalami cedera fatal, dan seluruh korban dilaporkan telah kembali bertugas tidak lama setelah insiden serangan itu berlangsung.

Para pejabat tersebut menggambarkan sasaran hantaman rudal sebagai sebuah kapal laut operasional, namun mereka memilih tidak merinci jenis maupun spesifikasi kapal secara mendetail.

Kendati demikian, mereka menegaskan bahwa kapal yang dihantam rudal Iran tersebut bukan merupakan kapal perang resmi milik Angkatan Laut AS (US Navy).

Kabar mengenai insiden di Selat Hormuz ini mengemuka hanya selang beberapa hari setelah The Washington Post mengungkapkan bahwa Departemen Pertahanan AS (Pentagon) baru saja memasukkan 37 nama personel tambahan yang terluka ke dalam daftar resmi korban perang melawan Iran. Penambahan data korban tersebut mencakup 29 pelaut Angkatan Laut dan delapan anggota Marinir.

Data peningkatan jumlah korban militer ini terungkap melalui basis data publik milik Pentagon, Defense Casualty Analysis System (DCAS), yang mencatat rekam medis prajurit gugur maupun terluka dalam operasi luar negeri.

BACA JUGA:  Trump Tolak Gencatan Senjata Iran dan Unggah Ejekan 'Selat Trump', Sinyal Serangan Susulan Menguat

Hingga Rabu pekan lalu, data sistem DCAS secara akumulatif mencatat sebanyak 861 tentara AS mengalami luka-luka sejak konflik bersenjata tersebut meletus.

Sayangnya, basis data publik tersebut tidak memberikan rincian kronologis mengenai kapan atau bagaimana ke-37 personel itu mengalami cedera.

Seorang pejabat Angkatan Laut AS mengonfirmasi kepada The Washington Post bahwa 29 pelaut yang sempat terluka kini telah kembali bertugas aktif, namun ia enggan membeberkan jenis cedera spesifik yang dialami para prajurit tersebut.

Analisis The Washington Post menunjukkan bahwa lebih dari separuh kasus cedera prajurit terdata dalam kategori “Operasi Luar Negeri” (Overseas Contingency Operations) dan terjadi pasca-kegagalan kesepakatan gencatan senjata pada Juli antara Washington dan Teheran.

Sebelumnya, data korban perang dicatat di bawah nama resmi “Operation Epic Fury”—sebutan operasi militer yang digunakan oleh pemerintahan Trump untuk memimpin kampanye perang tersebut.

BACA JUGA:  Data Sensitif Pegawai FBI Dihack Kelompok Peretas ShinyHunters, Informasi Intelijen dan Penugasan Rahasia Bocor

Pembaruan data korban yang terus membengkak ini kembali memantik sorotan publik terhadap transparansi Pentagon dalam mengelola catatan korban jiwa prajurit AS di Timur Tengah.

Pekan lalu, The Washington Post—dengan mengutip informasi dari enam pejabat yang memahami catatan internal militer—melaporkan adanya lima kasus kematian personel AS di kawasan Asia Barat yang tidak tercantum dalam basis data publik, meski tidak semua kematian tersebut berkaitan langsung dengan kontak tembak di medan perang.

Laporan ketidaksesuaian data korban tersebut ditanggapi keras oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Dalam pernyataannya, Hegseth membantah tegas temuan media tersebut dan menilai pemberitaan itu tidak akurat serta “memuakkan.”

Berdasarkan pencatatan resmi DCAS pada periode tersebut, terdapat 18 kematian personel militer AS yang disebabkan oleh aksi pertempuran maupun insiden nonperang sejak AS dan Israel memulai operasi militer bersama pada 28 Februari.

Angka kematian tersebut kemudian melonjak menjadi 19 jiwa setelah seorang perwira Angkatan Darat AS dilaporkan meninggal dunia akibat kondisi darurat medis pada 18 September saat dalam penerbangan menuju Asia Barat.

Laporan The Intercept yang mengutip pejabat Pentagon mengonfirmasi bahwa perwira Angkatan Darat tersebut sedang menaiki penerbangan militer menuju Arab Saudi sebelum mengalami komplikasi kesehatan fatal.

Kematian tersebut diklasifikasikan sebagai kejadian nonperang, di mana data kematian nonperang tetap diintegrasikan oleh sistem DCAS bersamaan dengan data korban akibat serangan langsung pihak musuh.[]

TERKAIT LAINNYA