Ekonomi

Rupiah Anjlok ke Rp17.600, Celios Kritik Sikap Presiden Prabowo

KETIKKABAR.com – Center of Economic and Law Studies (Celios) mengkritik keras sikap Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu menyepelekan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Saat ini, nilai tukar Rupiah telah menembus level terendah sepanjang masa di angka Rp17.600 per Dolar AS.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa situasi ekonomi global saat ini seharusnya direspons pemerintah dengan langkah antisipasi yang serius dan konkret, bukan justru menganggap remeh dampaknya terhadap masyarakat luas.

“Jadi kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang, yang harusnya di banyak negara pemimpin-pemimpinnya itu mempersiapkan kondisi yang terburuk dengan stimulus, mempersiapkan publik,” ujar Bhima di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).

Kritik ini mencuat merespons pernyataan Presiden Prabowo sebelumnya yang menyebut bahwa masyarakat pedesaan tidak akan terdampak oleh pelemahan Rupiah karena tidak mentransaksikan Dolar AS dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Bhima, pola komunikasi yang ditunjukkan oleh kepala negara justru berbahaya karena terkesan menantang krisis tanpa adanya persiapan yang matang.

BACA JUGA:
Libur Panjang, Trafik Tol Trans Sumatera Melonjak 24,19 Persen

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap sistem ekonomi global membuat efek pelemahan kurs akan otomatis menjalar hingga ke tingkat desa melalui kenaikan biaya hidup.

“Jangan dikira pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, yang Rp17.600 itu, itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” tegas Bhima.

Lebih lanjut, Celios memaparkan bahwa kondisi fundamental ekonomi masyarakat saat ini sangat berbeda dengan situasi krisis moneter pada tahun 1998 silam. Saat ini, masyarakat tidak lagi memiliki alternatif energi lokal yang sederhana untuk bertahan dari lonjakan harga.

“Indonesia ini kan makin terintegrasi ke dalam sistem ekonomi global dibandingkan tahun 98 dong. Kalau tahun 98 pada saat terjadi krisis harga minyak tanah naiknya tajam, orang bisa beralih ke kayu bakar,” ungkap Bhima.

BACA JUGA:
Bank Aceh Masuk Daftar World’s Best Banks 2026 Versi Forbes

Integrasi global yang mendalam ini dinilai membuat transmisi krisis menjadi lebih cepat dan memukul sektor-sektor vital kebutuhan rumah tangga.

“Tapi sekarang kayu bakarnya dari mana? Maka transmisi dari krisis energi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah ini adalah efek yang mematikan bagi LPG dan harga-harga kebutuhan pokok,” pungkasnya.

Sebelumnya, dalam acara peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026), Presiden Prabowo Subianto meminta agar masyarakat di pedesaan tidak perlu ikut pusing memikirkan pergerakan nilai tukar mata uang asing.

“Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo dalam pidatonya. []

TERKAIT LAINNYA