Ekonomi

Airlangga Hartarto: Indonesia Butuh Tumbuh 6,7 Persen untuk Jadi Negara Maju 2045

KETIKKABAR.com – Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia perlu memacu pertumbuhan ekonomi hingga mencapai angka 6,7 persen untuk mewujudkan visi menjadi negara maju pada tahun 2045.

Target ini dinilai krusial agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) serta memperkuat daya saing di kancah global.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sebuah seminar nasional di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Ia menekankan bahwa meskipun situasi global penuh tantangan, akselerasi pertumbuhan di atas lima persen adalah syarat mutlak bagi aspirasi jangka panjang bangsa.

“Saya kira, dengan aspirasi Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi (negara maju) pada 2045, Indonesia perlu tumbuh melampaui 5 persen. Artinya, Indonesia perlu mencapai pertumbuhan (ekonomi) setidaknya 6,7 persen. Karena itu, Presiden sangat mendorong kita, meskipun menghadapi situasi global yang penuh tantangan,” ujar Airlangga.

BACA JUGA:
Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Signifikan Mulai Hari Ini

Airlangga menjelaskan bahwa kondisi ketidakpastian global saat ini telah berdampak signifikan pada sektor energi, pangan, dan rantai pasok.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah fokus memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui kebijakan strategis dan pemanfaatan kekuatan domestik.

Salah satu pilar utama yang dijaga adalah konsumsi dalam negeri, yang menyumbang sekitar 54 persen dari total permintaan ekonomi nasional.

“Kita perlu menjaga kepercayaan konsumen karena konsumsi domestik menjadi penopang utama perekonomian,” katanya.

Selain menjaga daya beli, pemerintah tengah gencar mendorong diversifikasi energi guna mengurangi ketergantungan pada impor. Salah satu langkah konkretnya adalah peningkatan program pencampuran bahan bakar nabati.

“Pemerintah terus mendorong peningkatan pencampuran biodiesel hingga B50 untuk mengurangi ketergantungan impor energi,” ujarnya.

BACA JUGA:
Kick Off Program Pendidikan Kebanksentralan, Bank Indonesia Aceh Perkuat Sinergi dengan Perguruan Tinggi untuk mendorong kualitas SDM Unggul

Di sektor pangan, stabilitas pasokan dijaga melalui pengendalian biaya produksi, termasuk penyediaan bahan baku pupuk.

Airlangga mengungkapkan bahwa posisi Indonesia cukup kuat di pasar internasional, di mana Indonesia secara konsisten mencatatkan surplus produksi pupuk urea.

“Untuk pupuk urea, kita memiliki kelebihan dan bahkan mengekspor sekitar 1,5 juta ton setiap tahun,” ungkapnya.

Kekuatan produksi ini membuat negara-negara seperti India, Australia, dan Filipina meminta dukungan pasokan pupuk dari Indonesia.

Airlangga menilai berbagai langkah responsif dan fleksibel ini akan terus didorong oleh pemerintah guna memastikan target pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan dapat tercapai di tengah tekanan dinamika global. []

TERKAIT LAINNYA