Politik

Dinilai Berlebihan, Ultah Seskab Teddy Dianggap Tak Cerminkan Kondisi Rakyat

KETIKKABAR.com – Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menyoroti perbedaan mencolok antara perayaan ulang tahun Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dengan Ketua Komisi IV DPR Siti Hediarti Soeharto atau Titiek Soeharto yang berlangsung pada tanggal yang sama, yakni 14 April.

Kritik tersebut disampaikan Efriza dalam sesi wawancara di Jakarta pada Jumat (17/4/2026) malam, terkait gaya hidup elite di tengah kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

Efriza menilai perayaan ulang tahun Seskab Teddy yang dilaksanakan di luar negeri memberikan kesan mewah dan terlalu diekspos, sehingga kurang mencerminkan keprihatinan terhadap kondisi rakyat.

Sebaliknya, Titiek Soeharto merayakan hari lahirnya secara sederhana di Kompleks DPR melalui pemotongan tumpeng dan tiup lilin usai rapat Komisi IV, didampingi putranya, Didit Prabowo, serta mitra komisi.

“Perayaan ultah Seskab Teddy menunjukkan terlalu berlebihan, kesan mewah, amat diekspos, malah tidak mencerminkan keprihatinan atas kondisi rakyat dalam situasi ekonomi saat ini,” ujar Efriza saat dihubungi.

BACA JUGA:
Prabowo Disarankan Reshuffle Total: Rakyat Sudah Bosan Menelan Kekecewaan!

Berdasarkan data yang dihimpun, Teddy merayakan ulang tahunnya di beberapa lokasi, termasuk di Four Seasons Hotel George V di Paris, Prancis, saat mendampingi kunjungan dinas Presiden Prabowo Subianto.

Rombongan presiden diketahui menempati tipe kamar Signature Royal Suite dengan estimasi harga Rp300 juta hingga Rp500 juta per malam. Selain itu, Teddy juga mendapatkan kejutan ulang tahun dari pramugari saat dalam penerbangan menuju Paris.

Efriza menilai bahwa pemilihan lokasi perayaan di luar negeri memicu persepsi adanya jarak antara elite pemerintahan dengan masyarakat.

Ia juga melihat adanya ambiguitas pesan dari Istana, di mana eksposur besar-besaran terhadap figur tertentu justru bisa menenggelamkan citra kesederhanaan yang selama ini melekat pada Presiden Prabowo.

“Juga terlihat kesan jauh, mungkin juga enggan bersama rakyat alias berjarak dengan rakyat, karena dirayakan di negeri orang. Kesan peduli dengan rakyat, efisiensi anggaran, malah menjauh, yang ada hanya kesan bahwa Presiden Prabowo sangat dekat dengan Teddy, karena loyalitasnya,” lanjut Efriza.

Lebih lanjut, ia membandingkan posisi Titiek Soeharto yang menurutnya memiliki hubungan lebih kuat dengan Presiden namun memilih jalur sederhana.

BACA JUGA:
PAN Tantang Jusuf Kalla: Lebih Baik Kritik Langsung di Depan Prabowo Daripada Lewat Media

Hal tersebut dinilai memberikan sentimen positif dibandingkan perayaan Teddy yang berpotensi menimbulkan sentimen negatif terhadap empati pemerintah.

“Sisi Prabowo yang sangat sederhana malah hilang, karena kesan ingin menyenangkan Teddy semata,” tandasnya.

Perbedaan gaya merayakan ulang tahun ini menjadi perbincangan publik, terutama terkait konsistensi pemerintah dalam mengampanyekan efisiensi anggaran di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional.

Efriza mengingatkan agar institusi pemerintahan lebih peka terhadap persepsi publik guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap integritas para pejabat negara.[]

TERKAIT LAINNYA