Internasional

Trump Ancam Tinggalkan NATO, Sebut Aliansi Barat “Macan Kertas”

KETIKKABAR.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan kemungkinan menarik negaranya keluar dari NATO di tengah ketegangan dengan sekutu-sekutu Barat terkait konflik Iran.

Dalam wawancara dengan The Telegraph, Trump menyebut aliansi pertahanan tersebut sebagai “macan kertas”. Ia juga membuka kemungkinan meninjau ulang keanggotaan Amerika Serikat setelah konflik dengan Iran berakhir.

“Oh ya, saya akan mengatakan itu lebih dari sekadar untuk dipertimbangkan kembali.”

“Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka adalah macan kertas, dan Vladimir Putin juga tahu itu, omong-omong,” katanya dalam komentar yang dipublikasikan Rabu, 1 April 2026.

Pernyataan Trump muncul setelah ia mengkritik sekutu Eropa yang menolak membantu membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dan gas yang saat ini dikendalikan Iran.

Negara-negara Eropa juga disebut enggan memberikan akses pangkalan militer bagi AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Para pemimpin Eropa menilai upaya membuka Selat Hormuz sangat berisiko, mengingat Iran terus menargetkan kapal tanker yang melintas dan tidak dianggap sebagai pihak “bersahabat”.

Selain itu, sejumlah pejabat Eropa menilai perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran merupakan keputusan sepihak, tanpa konsultasi dengan sekutu sebelum konflik pecah pada akhir Februari.

Kekhawatiran juga muncul bahwa keterlibatan dalam konflik tersebut berpotensi menjadi “perang tanpa akhir” seperti di Irak dan Afghanistan.

Trump menilai sikap tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap NATO, terutama setelah AS memberikan dukungan kepada Ukraina dalam konflik melawan Rusia.

Namun, pihak yang berseberangan berpendapat bahwa NATO merupakan aliansi pertahanan kolektif, bukan untuk operasi ofensif.

BACA JUGA:
Keamanan Siber Israel Jebol: Hacker Iran Klaim Curi 19.000 Dokumen Militer Eks Panglima IDF

Trump menyatakan kekecewaannya terhadap sikap sekutu.

“Bukan hanya tidak hadir, itu sebenarnya sulit dipercaya. Dan saya tidak melakukan lobi besar. Saya hanya berkata, ‘Hei’, Anda tahu, saya tidak terlalu mendesak. Saya hanya berpikir itu seharusnya otomatis,” katanya.

“Kami sudah ada di sana secara otomatis, termasuk Ukraina. Ukraina bukan masalah kami. Itu adalah ujian, dan kami ada untuk mereka, dan kami akan selalu ada untuk mereka. Mereka tidak ada untuk kami,” imbuhnya.

Ketegangan juga terlihat dari kritik Trump terhadap Inggris dan Prancis. Ia sebelumnya memperingatkan kedua negara bahwa AS “tidak akan berada di sana untuk membantu Anda lagi.”

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyoroti sikap Prancis.

“Negara Prancis tidak mengizinkan pesawat yang menuju Israel, yang membawa pasokat militer, terbang melintasi wilayah Prancis.”

“Prancis SANGAT TIDAK MEMBANTU terkait ‘Jagai Iran,’ yang telah berhasil dieliminasi! Amerika Serikat akan MENGINGAT!!!” tulisnya.

Trump juga mengkritik Inggris, bahkan menyinggung kemampuan militernya.

“Semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris, yang menolak terlibat dalam pemenggalan kepemimpinan Iran, saya punya saran untuk Anda,” tulisnya.

“Nomor 1, beli dari AS, kami punya banyak, dan Nomor 2, bangun keberanian yang tertunda, pergi ke selat itu, dan langsung AMBIL.”

Dalam komentar lain, Trump kembali menyindir Inggris.

BACA JUGA:
Geger! Netanyahu Minta Tunda Sidang Korupsi Lagi, Ini Alasan Terbarunya

“Anda bahkan tidak punya angkatan luar. Anda terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi,” katanya.

Ia juga menyinggung Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

“Dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Tidak masalah. Semua yang Starmer inginkan hanyalah turbin angin mahal yang membuat harga energi Anda melonjak,” katanya.

Sinyal peninjauan hubungan AS dengan NATO juga datang dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

“Jika NATO hanya tentang kami membela Eropa jika mereka diserang tetapi kemudian menolak hak penggunaan pangkalan ketika kami membutuhkannya, itu bukan pengaturan yang sangat baik. Sulit untuk tetap terlibat dan mengatakan ini baik bagi Amerika Serikat. Jadi semua itu harus ditinjau kembali,” katanya.

Sementara itu, Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan mengubah sikapnya meskipun menghadapi tekanan untuk bergabung dalam konflik Iran.

“Ada cukup banyak tekanan kepada saya untuk mengubah posisi saya terkait bergabung dalam perang [Iran], dan saya tidak akan mengubah posisi saya dalam perang,” katanya. “Apapun tekanannya, apapun kebisingannya, saya adalah perdana menteri Inggris dan saya harus bertindak demi kepentingan nasional kami.”

Starmer juga menegaskan pentingnya hubungan Inggris dengan Eropa dalam isu pertahanan, energi, dan ekonomi.

Di sisi lain, Presiden Finlandia Alexander Stubb menyebut telah berkomunikasi dengan Trump.

“Diskusi konstruktif dan pertukaran ide tentang NATO, Ukraina, dan Iran. Masalah ada untuk diselesaikan secara pragmatis,” tulisnya di media sosial X. []

TERKAIT LAINNYA