Ekonomi

Lampu Kuning Ekonomi: Defisit APBN 2025 Membengkak Tembus Rp695 Triliun!

KETIKKABAR.com – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menutup tahun anggaran 2025 dengan catatan merah. Defisit anggaran tercatat mencapai Rp695,1 triliun atau setara dengan 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per akhir Desember 2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa angka defisit ini menunjukkan tekanan pada kas negara yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

“Hingga 31 Desember 2025 APBN defisit Rp 695 triliun atau 2,92 persen dari total PDB nasional,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa yang digelar di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

Melampaui Outlook dan Realisasi 2024

Capaian defisit ini tercatat melampaui angka defisit APBN 2024 yang berada di level Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB.

Tak hanya itu, realisasi ini juga melebar dari outlook pemerintah sebelumnya yang memproyeksikan defisit di angka 2,78 persen terhadap PDB pada tahun 2025.

BACA JUGA:
BSI–Pemko Banda Aceh Hadirkan “Banda Aceh Berhaji”, Ustadz Hanan Attaki Isi Kajian Spiritual

Purbaya merinci bahwa faktor utama pelebaran defisit ini adalah tidak tercapainya target penerimaan negara.

Sepanjang 2025, realisasi penerimaan negara hanya terkumpul Rp2.756 triliun, atau baru menyentuh 91,7 persen dari target yang ditetapkan.

Performa pendapatan negara tahun ini juga menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Realisasi pendapatan negara sepanjang 2024 diketahui mampu mencapai Rp2.850 triliun.

Belanja Negara Terus Melonjak

Di sisi berlawanan, pos belanja negara justru mengalami kenaikan yang signifikan. Realisasi belanja negara sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp3.451 triliun. Angka ini setara dengan 95,3 persen dari target pagu yang sebesar Rp3.527 triliun.

Realisasi belanja tersebut melonjak cukup tajam jika dibandingkan dengan belanja negara pada tahun 2024 yang hanya sebesar Rp3.359 triliun.

Akibat tingginya beban belanja di tengah seretnya pendapatan, keseimbangan primer pun ikut mencatatkan defisit sebesar Rp180,7 triliun. []

BACA JUGA:
BSI-ANTAM Gas Pol Industri Bullion, Dorong Ekosistem Emas Nasional Naik Kelas

Sentil Donatur ‘Spanduk Besar’, KSAD: Datang Bawa Nama, Titip Bantuan ke Orang Lain

TERKAIT LAINNYA