BisnisEkonomi

Bitcoin Turun 30% dari Puncak, Namun Apakah Ini Tanda Kembali Menuju Rekor Tertinggi?

KETIKKABAR.comBitcoin tercatat mengalami penurunan lebih dari 30% dari rekor tertinggi yang tercatat pada awal Oktober 2025, yakni US$126.000.

Sejak mencapai titik tersebut, harga Bitcoin terus turun hingga menyentuh level terendah sekitar US$80.000 pada akhir bulan lalu, sebelum kembali mengalami reli dan akhirnya jatuh lagi pada minggu ini.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Coinmetrics, pada Kamis lalu, Bitcoin diperdagangkan dengan harga sekitar US$93.000, turun 26% dari level tertingginya.

Mengutip laporan CNBC Internasional pada Minggu (7/12/2025), fluktuasi harga Bitcoin ini disebut sebagai hal yang wajar dan normal, mengingat sejarah pergerakan harga mata uang kripto tersebut.

Pergerakan harga yang volatile ini dikenal dengan sebutan siklus, yang merupakan fenomena umum dalam perdagangan Bitcoin.

BACA JUGA:
Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Signifikan Mulai Hari Ini

Siklus Bitcoin biasanya merujuk pada pergerakan harga selama empat tahun yang berkaitan dengan peristiwa halving, yakni ketika terjadi perubahan pada imbalan penambangan yang tercatat dalam kode Bitcoin.

Catatan CNBC Internasional juga menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin cenderung konsisten.

Sebagai contoh, pada Maret hingga Agustus 2024, harga Bitcoin tercatat turun sebesar 32,7%, sementara pada Januari hingga April 2025 mengalami penurunan 31,7%.

Pada 2017, Bitcoin mengalami penurunan sebesar 40% dua kali, dan 29% pada November, sebelum akhirnya mencatatkan rekor harga tertinggi satu bulan setelahnya.

Hal serupa terjadi pada 2021, ketika Bitcoin mengalami penurunan 31,2% pada Januari, 26% pada Februari, dan anjlok hingga 55% akibat larangan penambangan oleh China. Meskipun begitu, Bitcoin kembali mencetak titik tertinggi pada November 2021.

BACA JUGA:
Pertamina Patra Niaga Resmi Naikkan Harga LPG Nonsubsidi 5,5 Kg dan 12 Kg, Berikut Daftar Harga Terbarunya

Jacob Josep, Analis Riset Senior CoinDesk Data, mengatakan bahwa volatilitas yang terjadi saat ini sejalan dengan pola siklus harga sebelumnya.

“Setiap kali terjadi koreksi yang lebih dalam pada pertengahan siklus, hampir semuanya, kecuali penurunan akibat larangan penambangan tahun 2021, selalu terjadi dalam struktur bullish yang lebih luas, yang seringkali bertahan di atas level teknis utama rata-rata pergerakan 50 minggu,” ujar Jacob Josep. []

Zulhas Jadi Kambing Hitam Bencana? Ini Respons Santainya

TERKAIT LAINNYA