KETIKKABAR.com – Siapa sangka, pulau di titik paling barat Indonesia kini memiliki ikon oleh-oleh baru yang tengah naik daun.
Adalah “Cokbang“, akronim dari Cokelat Sabang, sebuah jenama (merek) cokelat artisan lokal yang berhasil bertransformasi dari industri rumahan sederhana menjadi produsen inovatif dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
Dikelola oleh Koperasi Produsen Kakao Jaya Mandiri, Cokbang kini menjadi buah bibir sebagai salah satu produk unggulan baru di Pulau Sabang.
Di balik kesuksesan ini, ada peran penting dari dukungan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh.
Melan Deta Diansyah, salah satu pengurus koperasi, mengungkapkan bahwa bantuan mesin produksi modern dari BI menjadi katalisator utama. Berkat teknologi tersebut, Cokbang berhasil meledakkan lini produksinya.
“Dukungan (BI) ini sangat signifikan. Kami berhasil memperluas produksi dari semula hanya lima jenis produk menjadi 17 varian unggulan,” ujar Melan.
Kini, etalase Cokbang diisi beragam olahan, mulai dari bubuk cokelat, choco nibs, hingga cokelat batang premium seperti Sabang Single Origin Dark Chocolate 75% dan varian unik Seasalt & Clove yang menggunakan garam laut murni dari pesisir Sabang.
Inovasi Teh dari Kulit Kakao
Inovasi Cokbang tidak berhenti di situ. Mereka berhasil menerapkan prinsip keberlanjutan (sustainability) dengan menyulap bagian yang biasanya terbuang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Kami juga memproduksi teh cokelat. Ini memanfaatkan kulit kakao yang biasanya hanya menjadi limbah,” jelas Melan.
“Produk ini tidak hanya menambah variasi olahan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi kami dan petani.” lanjutnya
Keunikan produk Cokbang juga terletak pada bahan bakunya. Biji kakao Sabang, menurut Melan, memiliki ciri khas kadar lemak yang sangat rendah, hanya sekitar 1,6%.
“Karakteristik ini menjadikan cokelat produksi Cokbang lebih tahan lama dan memiliki cita rasa khas yang berbeda dari cokelat daerah lain,” ujar Melan.
Berawal dari “Alat Seadanya”
Perjalanan Cokbang, lanjut Melan, dimulai dari tekad dan komitmen. Semuanya berawal dari pelatihan yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Sabang beberapa tahun lalu.
Dorongan untuk menciptakan oleh-oleh khas baru selain bakpia dan dodol juga datang dari Pj Wali Kota Sabang saat itu, yang ingin memperkaya identitas Sabang sebagai destinasi wisata kuliner.
“Dulu kami hanya menggunakan alat seadanya. Tapi dari situ kami berkomitmen untuk terus mengolah kakao menjadi produk khas Sabang,” kenang Melan.
Komitmen itu kini berbuah manis. Dengan fokus pada pembinaan petani lokal untuk menghasilkan biji kakao premium, Cokbang mampu menjual sekitar 1,7 ton produk olahan cokelat dalam setahun, dengan total pendapatan mencapai Rp 300 juta hingga Rp 360 juta per tahun.
Tantangan Infrastruktur dan Pemasaran
Meski berkembang pesat, Cokbang bukannya tanpa tantangan. Saat ini, unit produksi mereka masih menempati aset milik Pemerintah Daerah, dan dapur produksi dirasa perlu diperluas untuk menampung kapasitas yang terus meningkat.
Selain itu, pemasaran masih terbatas di pasar lokal Sabang. Melan menyoroti tantangan distribusi di toko oleh-oleh yang sebagian besar belum dilengkapi pendingin ruangan (AC), padahal cokelat merupakan produk yang mudah meleleh di suhu tropis.
“Kami berharap dukungan terus berlanjut agar produk Cokbang dapat menembus pasar nasional, bahkan internasional. Kami ingin Sabang dikenal luas sebagai daerah penghasil kakao berkualitas,” tutup Melan. []
BI Aceh Gelar Forum Komunikasi Mitra Jurnalis di Sabang, Dorong Peran Pers Jaga Stabilitas Ekonomi


















