Internasional

Presiden Lebanon Tegaskan Perundingan dengan Israel Harus Bersifat Timbal Balik

KETIKKABAR.com – Presiden Lebanon, Joseph Aoun, pada hari Jumat (31/10/2025) menegaskan bahwa setiap negosiasi dengan Israel untuk menghentikan serangan berkelanjutan di Lebanon selatan harus bersifat timbal balik.

Pernyataan ini disampaikan setelah Aoun bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, yang sedang melakukan perjalanan resmi pertamanya ke Timur Tengah.

Kunjungan Wadephul terjadi di tengah peningkatan serangan Israel di Lebanon selatan, meskipun gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat telah berlangsung selama hampir satu tahun.

Gencatan senjata tersebut mengakhiri perang skala penuh Israel-Hizbullah yang pecah pada September 2024, setelah konflik dipicu oleh dukungan Hizbullah kepada Hamas usai serangan 7 Oktober 2023.

Sejak gencatan senjata November lalu, Israel dituduh terus melakukan serangan hampir setiap hari, menargetkan militan Hizbullah, gudang senjata, dan pusat komando.

Yang menjadi sorotan utama Lebanon adalah upaya Israel mempertahankan posisi di beberapa titik strategis di dalam wilayah Lebanon.

Para pejabat Lebanon menuduh Israel menyerang wilayah sipil dan merusak infrastruktur non-Hizbullah, serta menuntut agar pasukan Israel segera mundur dan menghormati kedaulatan Lebanon.

BACA JUGA:
Iran Gempur Kapal Militer AS di Selat Hormuz, Balas Pelanggaran Gencatan Senjata

“Lebanon siap melakukan perundingan untuk mengakhiri pendudukan Israel,” kata Aoun kepada Wadephul. “Tetapi perundingan apa pun tidak bisa dilakukan secara sepihak, hal ini memerlukan kemauan bersama, dan hal ini masih kurang.”

Aoun menambahkan bahwa format, waktu, dan lokasi perundingan akan ditentukan kemudian.

Pada hari Jumat, setidaknya dua orang tewas akibat serangan Israel di beberapa lokasi di Lebanon selatan, menurut Kantor Berita Nasional.

Juru bicara militer Israel membenarkan pembunuhan seorang pria, menuduhnya berusaha membangun kembali infrastruktur Hizbullah.

Situasi makin memanas setelah operasi darat yang jarang terjadi pada hari Kamis, di mana tentara Israel menyerbu sebuah gedung kota di desa perbatasan Blida dan menewaskan Ibrahim Salameh, seorang pegawai kota.

Israel mengklaim operasi tersebut untuk menghancurkan “infrastruktur teroris,” namun Presiden Aoun mengatakan Salameh tewas “saat menjalankan tugas profesionalnya,” memicu kecaman keras dari Lebanon.

Menyikapi eskalasi ini, Aoun telah meminta tentara Lebanon untuk “menghadapi setiap serangan Israel” ke Lebanon selatan “untuk mempertahankan tanah Lebanon dan keselamatan warga negara.”

BACA JUGA:
Polisi Selamatkan Bocah 2 Tahun yang Ditelantarkan Ayah di Hutan

Sikap ini mendapat dukungan penuh dari Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Kassem, yang menyebut posisi Presiden tersebut sebagai sikap yang bertanggung jawab.

Menyusul pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Rajji, Menlu Jerman Johann Wadephul mengatakan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut di wilayah Lebanon “tidak dapat diterima.”

Ia menekankan perlunya Israel menghormati kedaulatan Lebanon dan pentingnya kedua belah pihak mematuhi perjanjian penghentian permusuhan.

Sementara itu, Presiden Aoun mengumumkan bahwa kehadiran tentara Lebanon di selatan akan ditingkatkan menjadi 10.000 tentara sebelum akhir tahun ini, seraya melanjutkan koordinasi dengan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) untuk memastikan tidak ada kelompok bersenjata selain tentara Lebanon yang beroperasi di wilayah tersebut, sesuai dengan ketentuan gencatan senjata. []

Raja Charles III Cabut Seluruh Gelar Pangeran Andrew Buntut Skandal Epstein

TERKAIT LAINNYA