Internasional

Gideon Saar: Erdogan Musuhi Israel, Pasukan Turki Dilarang ke Gaza

KETIKKABAR.com – Rencana perdamaian yang diusulkan AS untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza menemui hambatan keras dari Israel, khususnya terkait keterlibatan militer Turki.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Israel, Gideon Saar, secara tegas menyatakan pemerintahnya tidak akan menerima kehadiran pasukan bersenjata Turki di wilayah tersebut sebagai bagian dari pasukan internasional.

Rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump mencakup kehadiran pasukan internasional di Gaza untuk mengamankan gencatan senjata yang rapuh sejak 10 Oktober.

AS sendiri telah berbicara dengan beberapa negara, termasuk Turki, Indonesia, Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, dan Azerbaijan, untuk berkontribusi.

Berbicara dalam konferensi pers saat melakukan kunjungan di Budapest, Hungaria, pada Senin (27/10), Saar menekankan bahwa negara yang mengirim pasukan harus bersikap adil terhadap Israel.

BACA JUGA:
Iran Ancam Ratakan Seluruh Pelabuhan Teluk Jika Trump Berani Blokade Selat Hormuz

Saar menilai hubungan Israel dan Turki memburuk selama konflik Gaza. Ia menuduh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memimpin pendekatan yang bermusuhan terhadap Israel dan terlalu dekat dengan Hamas dan Ikhwanul Muslimin.

“Turki, yang dipimpin oleh Erdogan, memimpin pendekatan yang bermusuhan terhadap Israel,” ujar Saar. “Jadi, tidak masuk akal bagi kami untuk membiarkan pasukan bersenjata mereka (Turki) memasuki Jalur Gaza, dan kami tidak akan menyetujuinya, dan kami telah mengatakannya kepada teman-teman Amerika kami,” tegasnya.

Pernyataan Saar ini menguatkan isyarat dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pekan lalu, yang menentang peran apa pun bagi pasukan keamanan Turki.

Pada Minggu (26/10), Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan memegang kendali atas keamanan mereka dan berhak memutuskan pasukan asing mana saja yang akan diizinkan masuk ke Jalur Gaza.

BACA JUGA:
Iran Ancam Balasan Lebih Keras ke AS dan Israel Jika Kedaulatan Diserang

“Kami memegang kendali atas keamanan kami, dan kami juga telah memperjelas mengenai pasukan internasional bahwa Israel akan menentukan pasukan mana yang tidak dapat kami terima,” tegas Netanyahu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hanya berkomentar bahwa pasukan keamanan internasional harus terdiri atas “negara-negara yang membuat Israel merasa nyaman,” tanpa mengomentari kemungkinan keterlibatan Turki. []

DPR Dukung Penuh KPK Usut Mark Up Whoosh: Tidak Boleh Takut

TERKAIT LAINNYA