Nasional

Arab Saudi Bangun Kereta Cepat 1.500 Km Rp112 Triliun, Whoosh 142 Km Rp113 Triliun — Ada yang Salah?

KETIKKABAR.com – Rencana Arab Saudi membangun jalur kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer yang menghubungkan Jeddah dan Riyadh dengan taksiran biaya $25 miliar AS (sekitar Rp112 triliun) memicu perbandingan mencolok dengan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB).

Perbandingan ini, alih-alih menimbulkan kebanggaan, justru menelanjangi realitas pembengkakan biaya proyek infrastruktur di Indonesia.

Jika dihitung secara kasar, biaya per kilometer proyek Jeddah–Riyadh hanya mencapai sekitar Rp75 miliar/km. Angka ini berbanding terbalik ekstrem dengan KCJB yang menelan biaya sekitar Rp991 miliar/km. Dengan kata lain, proyek Indonesia 13 kali lipat lebih mahal per kilometer dibandingkan proyek lintas gurun Arab Saudi.

Padahal, biaya KCJB sendiri telah membengkak dari estimasi awal Rp86 triliun menjadi Rp113 triliun. Tambahan Rp27 triliun tersebut ditutup melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN), yang berarti dibayar menggunakan uang rakyat.

KCJB sejak awal diklaim sebagai simbol kemajuan. Namun, perbandingan biaya dengan proyek Arab Saudi menunjukkan bahwa “kemajuan” tersebut harus dibayar mahal.

BACA JUGA:
Populasi Lampaui 60 Persen, Pemprov DKI Jakarta Musnahkan 6,9 Ton Ikan Sapu-Sapu

Perbedaan biaya yang mencolok ini dinilai menuntut penjelasan rasional. Sementara faktor geografis, nilai tukar, dan harga tanah pasti berperan, selisih 13 kali lipat dianggap terlalu ekstrem.

KCJB, yang menggunakan teknologi mutakhir dari China, dikritik dibangun di atas fondasi keputusan politik, bukan perencanaan ekonomi.

Pemerintah kala itu menolak tawaran studi kelayakan komprehensif dari Jepang dan memilih proposal China yang menjanjikan “tanpa jaminan APBN” janji yang kemudian terbukti semu.

Masalah KCJB meliputi keterlambatan, pembebasan lahan, hingga kesalahan teknis dalam pembangunan terowongan, yang semuanya berkontribusi pada melambungnya biaya.

Ironisnya, proyek yang diklaim sebagai lambang peradaban modern ini minim transparansi dan auditnya kerap menjadi bahan perdebatan politik.

Sebaliknya, proyek Jeddah–Riyadh di Arab Saudi dikelola oleh Saudi Railway Company (SAR) yang dikenal efisien dan menerapkan pengawasan internal ketat, dengan audit yang dilakukan oleh lembaga independen.

BACA JUGA:
Polda Aceh Limpahkan Tersangka DS, Kasus Ujaran Kebencian ke Jaksa

Jika Arab Saudi membangun kereta cepat untuk memperkuat konektivitas ekonomi dan mobilitas jemaah haji-umrah antara dua kota vital, Indonesia membangun KCJB untuk menghubungkan dua kota yang sudah memiliki infrastruktur tol dan kereta eksisting dengan waktu tempuh hanya 2,5 jam.

Perbandingan ini menyimpulkan bahwa kemajuan tidak diukur dari kecepatan kereta, melainkan dari kemampuan negara mengelola uang publik secara efisien dan berintegritas.

Arab Saudi, yang selama ini dianggap konservatif, justru menunjukkan bahwa modernisasi infrastruktur dapat berjalan efisien dengan perencanaan yang matang dan fokus pada hasil nyata. []

Viral! Baut Sayap Pesawat Thai Lion Air Kendur, Penumpang Panik

TERKAIT LAINNYA