Nasional

Utang Kereta Cepat Whoosh Ancam BUMN, Pengamat Sebut Jokowi “Kehilangan Pulung”

KETIKKABAR.com – Jokowi disebut berada di posisi yang kian terjepit setelah masa jabatannya berakhir, diperparah dengan sengkarut utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh yang kini membebani keuangan negara dan BUMN.

Akademisi dan pengamat politik, Rocky Gerung, menilai rentetan kontroversi ini telah membuat Jokowi kehilangan “pulung,” sebuah konsep dalam filsafat Jawa yang berarti kehilangan wahyu atau kekuatan untuk membaca tanda-tanda alam bahwa masa kekuasaan telah berakhir dan imunitas politiknya sirna.

Rocky memprediksi bahwa mantan presiden tersebut tidak akan dapat menikmati masa pensiun dengan tenang, seiring dengan semakin gencarnya publik menguliti skandal yang terjadi selama 10 tahun masa pemerintahannya.

Menurut Rocky Gerung, meskipun kontroversi Jokowi meliputi polemik ijazah dan “penyelundupan hukum” dalam pencalonan putranya, utang proyek Whoosh-lah yang kini menjadi “titik sorot” utama yang sulit dihindari oleh Jokowi.

Rocky menyoroti keputusan kontroversial Jokowi pada tahun 2015 untuk berpaling dari mitra utama Jepang (JICA) ke Tiongkok (KCIC).

BACA JUGA:
Prabowo Disarankan Reshuffle Total: Rakyat Sudah Bosan Menelan Kekecewaan!

Jepang menawarkan skema pinjaman yang jauh lebih ringan, dengan bunga 0,1 persen dan tenor 40 tahun, serta estimasi biaya proyek yang lebih masuk akal. Sebaliknya, kemitraan dengan Tiongkok menyebabkan:

  • Pembengkakan Biaya (Cost Overrun): Biaya proyek Whoosh membengkak dari rencana awal sekitar $6,07 miliar menjadi $7,27 miliar (sekitar Rp120,38 triliun).
  • Beban Utang: 75 persen dari total investasi $7,2 miliar didapat dari pinjaman China Development Bank.

Dugaan mark-up dalam proyek ini semakin menguat setelah Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, mengungkap kejanggalan biaya.

Berdasarkan informasi terpercayanya, perhitungan biaya Whoosh per 1 kilometer oleh pihak Indonesia mencapai $52 juta AS, hampir tiga kali lipat dari hitungan Tiongkok yang hanya $17-18 juta AS. Mahfud mendesak agar kasus ini segera diselidiki.

Rocky Gerung menilai proyek Whoosh adalah “skandal” karena dipaksakan tanpa adanya urgensi yang mendesak, dilakukan tanpa kehati-hatian, dan kini justru membawa beban utang besar bagi negara.

BACA JUGA:
Komisi III DPR Tinjau Implementasi KUHP-KUHAP Baru di Polda Aceh

Kini, utang proyek Whoosh yang mencapai Rp116 triliun telah menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh BUMN Indonesia, khususnya PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebagai pemimpin konsorsium PSBI (Pilar Sinergi BUMN Indonesia).

Utang dan cost overrun tersebut dinilai sebagai “bom waktu” yang membuat PT KAI dan konsorsium kewalahan:

  • Kerugian Konsorsium: PSBI mencatat kerugian sebesar Rp1,625 triliun pada semester I-2025.
  • Beban KAI: Sebagai lead konsorsium, PT KAI menanggung porsi kerugian terbesar, yakni Rp951,48 miliar per Juni 2025.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, bahkan secara terbuka menyebut besarnya utang proyek Whoosh ini sebagai “bom waktu” saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, dan menyatakan akan berkoordinasi dengan BPI Danantara untuk menanganinya. []

Demonstrasi Banser di Depan Trans7 Memanas, Orator Lontarkan Ancaman Keras

TERKAIT LAINNYA