KETIKKABAR.com – Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Medan setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak Sabtu, 11 Oktober 2025. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, genangan air terjadi di tujuh kecamatan dan 17 kelurahan, merendam 3.181 unit rumah dan berdampak pada 3.599 kepala keluarga atau sekitar 10.391 jiwa.
Peristiwa ini kembali menyorot efektivitas proyek pembangunan kolam retensi yang menjadi salah satu program andalan Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Bobby Nasution. Salah satu kolam retensi yang dibangun berlokasi di kawasan Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Jalan Dr. Mansyur, Medan.
Pemerintah Kota Medan sebelumnya mengklaim kolam retensi dengan biaya sekitar Rp20 miliar itu mampu menampung air hingga 10 ribu meter kubik dengan ketinggian drainase mencapai 1,3 meter. Proyek ini dikerjakan melalui kerja sama antara Pemko Medan dan pihak USU.
Namun, banjir yang kembali terjadi di berbagai wilayah kota membuat sejumlah pihak menilai proyek tersebut belum menunjukkan hasil signifikan. Pengamat lingkungan Jaya Arjuna menyebut pembangunan kolam retensi di Medan tidak efektif mengatasi persoalan banjir yang kerap berulang.
“Kolam retensi itu tidak bisa menangani banjir di Medan,” kata Jaya Arjuna, dikutip dari RMOLSumut, Selasa, 14 Oktober 2025.
Menurut dia, Pemerintah Kota Medan perlu lebih peka dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi penanganan banjir yang selama ini diterapkan. Ia menilai, rencana pembangunan kolam retensi baru di beberapa titik justru tidak akan memberikan solusi menyeluruh terhadap persoalan genangan air.
“Sekarang di Medan ada 1.300 lebih titik banjir. Satu titik saja tidak bisa diatasi dengan kolam retensi, bagaimana mungkin mau diselesaikan dengan cara yang sama?” ujar Jaya. []


















