KETIKKABAR.com – Kematian tragis Prada Lucky Chepril Saputra Namo akibat dugaan penganiayaan oleh seniornya tak hanya menyisakan duka mendalam bagi sang ayah, Serma Christian Namo, tetapi juga memicu kemarahan baru.
Serma Christian Namo, prajurit TNI Angkatan Darat (AD) yang bertugas di Kodim 1627 Rote Ndao, NTT, kini memburu sebuah akun media sosial yang melontarkan pernyataan tidak pantas kepada anaknya.
Kemarahan Serma Christian meledak setelah mengetahui ada akun bernama Nafa Arshana yang menyebut Prada Lucky memiliki orientasi seksual menyimpang.
“Masalahnya yang meninggal ini juga moralnya tidak ada, dia punya orientasi seksual menyimpang. Kalo proses hukum pada yang hakim tetap berlaku,” tulis akun Nafa Arshana.
Tak terima anaknya difitnah saat ia sedang berduka, Serma Christian Namo meminta bantuan wartawan untuk melacak pemilik akun tersebut.
“Ini akun (Nafa Arshana), saya lagi berduka. Kepada wartawan, beta (saya) meminta, bukan minta apa-apa tolong cari dia sebelum saya yang cari dia. Nanti saya teruskan,” ujar Serma Christian, dikutip dari akun TikTok Sergap ID, Minggu (10/8/2025).
Ia bahkan menyebut pemilik akun Nafa Arshana adalah istri dari seorang tentara dan memberi peringatan keras.
“Jangan mencari masalah baru. Saya lagi susah. Istri tentara, saya tentara, anak saya dibunuh tentara, itu belum selesai, ingat itu baik-baik,” tegasnya.
Kematian Prada Lucky Namo bermula dari pemeriksaan internal di Yonif TP 834/Wakanga Mere pada 27 Juli 2025. Lucky, yang baru bertugas dua bulan, diduga dianiaya oleh puluhan senior menggunakan tangan kosong dan selang, meskipun pimpinan batalyon telah melarang kekerasan.
Penganiayaan berulang terjadi hingga 30 Juli, membuat kondisi Lucky memburuk. Ia kemudian dirujuk ke RSUD Aeramo pada 2 Agustus dengan luka lebam, sayatan, dan bekas sundutan rokok. Setelah dirawat intensif, Lucky meninggal dunia pada 6 Agustus pukul 11.23 Wita.
Hingga kini, kasus tersebut ditangani oleh Sub Detasemen Polisi Militer IX/1-1 Ende, dengan empat terduga pelaku telah ditahan, yaitu Pratu Petris Nong Brian Semi, Pratu Ahmad Adha, Pratu Emiliano De Araojo, dan Pratu Aprianto Rede Raja.
Serma Christian Namo tak hanya menuntut keadilan bagi putranya, tetapi juga hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku. Ia meminta para pelaku dipecat dari TNI dan dihukum mati.
“Nyawa beta taruhan, hukuman cuma dua buat anak saya, hukuman mati dan pecat tidak ada di bawah itu, nyawa saya taruhan tentara saya lepas,” kata Christian.
Ia bahkan bersumpah untuk bertaruh nyawa demi keadilan.
“Dengar baik-baik, Merah Putih bubarkan saja, saya tanggung jawab, Merah Putih bubarkan saja, negara Indonesia bubarkan saja kalau keadilan memang tidak akan terjadi dan nyawa saya taruhan,” pungkasnya, menegaskan bahwa ia tak ingin ada prajurit lain yang bernasib seperti anaknya.[]


















