KETIKKABAR.com – Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Sofian Effendi, buka suara soal rekam jejak akademik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi, saat kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Pernyataan Sofian dinilai memperkuat dugaan kejanggalan atas ijazah Jokowi.
Presidium Forum Alumni Kampus Seluruh Indonesia (Aksi), Nurmadi H. Sumarta, menyebut pengakuan Sofian kian menyulitkan Jokowi untuk menghindari pertanyaan publik soal keaslian ijazahnya.
“Rakyat sudah muak dengan dugaan kepalsuan dan kebohongan,” kata Nurmadi kepada RMOL, Kamis (17/7/2025).
Akademisi dari Universitas Negeri Surakarta (UNS) Sebelas Maret itu menegaskan bahwa pada akhirnya kejujuran akan selalu menang.
“Kebenaran tetap akan menemukan jalan dan kemenangan. Sopo salah mesti bakal seleh,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan Jokowi agar tidak pongah hanya karena masih bisa membayar pengacara dan buzzer untuk membela diri di tengah badai isu.
“Mungkin masih ada sisa kekuasaan yang membela,” ujar Nurmadi.
Sebelumnya, Prof. Sofian Effendi mengungkap sejumlah kejanggalan terkait status akademik Jokowi. Dalam wawancaranya dengan Rismon Sianipar yang dikutip dari Balige Academy, Sofian menyebut dirinya memperoleh informasi dari para guru besar di Fakultas Kehutanan UGM, yang merupakan rekan seangkatan Jokowi.
Baca juga: Mantan Rektor UGM: Nama Jokowi Tak Ada di Daftar Wisuda 1985, Nilai di Bawah Standar
Salah satu kejanggalan adalah terkait jalur masuk UGM. Sofian menyebut Jokowi diterima di Fakultas Kehutanan hanya bermodal lulus dari SMPP Surakarta, yang kala itu setara sekolah menengah atas.
“Ada sedikit masalah, masih SMPP kok bisa langsung masuk UGM. Ini yang menjadi kontroversi,” ujar Sofian.
Ia juga menyebut pada 1980 tercatat dua nama mahasiswa, yakni Hari Mulyono dan Joko Widodo, masuk Fakultas Kehutanan. Hari dikenal aktif sebagai pendiri Sifa Gama dan lulus pada 1985, sementara Jokowi, menurut Sofian, tidak lulus dalam penilaian akademik.
“Dari sekitar 30 mata kuliah, nilai Jokowi dalam empat semester awal hanya menghasilkan IPK sekitar 2, bahkan katanya di bawah itu,” jelasnya.
Sofian menambahkan, jika saat itu masih diberlakukan sistem sarjana muda (BSc) dan sarjana (S1), maka Jokowi seharusnya tidak lolos ke jenjang sarjana karena IPK-nya tidak mencukupi.
Lebih lanjut, Sofian juga menyinggung soal skripsi Jokowi yang dianggap janggal.
“Saya pernah tanya, skripsinya kok kosong. Dijawab memang tidak diuji. Tidak ada tanggal dan tanda tangan penguji,” ungkapnya.
Sofian menyimpulkan, jika pun Jokowi memiliki ijazah, besar kemungkinan hanya sebatas ijazah sarjana muda.
“Tapi kalau ijazah skripsi sarjana (S1), menurut informasi yang saya dapat, Jokowi tidak punya,” tutupnya.[]


















