Hukum

Sebelum Ditemukan Tewas, Diplomat Arya Daru Sempat Curhat Soal Tekanan Pekerjaan dan Hidup Terpisah dari Istri

KETIKKABAR.com – Kabar kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri RI, Arya Daru Pangayunan, yang ditemukan tewas mengenaskan dengan wajah terlakban, menyisakan duka dan tanya yang belum terjawab.

Namun jauh sebelum tragedi itu terjadi, Arya ternyata sempat mencurahkan isi hatinya tentang tekanan kerja dan perjuangan hidup di perantauan, empat tahun lalu.

Dalam tulisan pribadi yang dimuat ulang oleh Tribun Medan pada Kamis (10/7/2025), Arya bercerita bagaimana ia harus menekan perasaan sebagai suami dan ayah demi tugas negara.

Saat pertama kali ditugaskan sebagai Local Staff (LS) di KBRI Yangon, Myanmar, Arya harus meninggalkan istrinya, Meta Ayu Puspitanti, yang tengah hamil anak pertama mereka.

“Ketika mengabari Pita bahwa saya mengambil pekerjaan sebagai LS di Myanmar, sempat muncul kegalauan… Pita sedang hamil muda dan fasilitas kesehatan di Myanmar tidak sebaik di Indonesia,” tulis Arya dalam catatannya tahun 2021.

Arya mengisahkan bagaimana ia berangkat ke Yangon pada 6 Juni 2011, dengan berat hati meninggalkan istri tercinta di Jogja, yang harus tinggal bersama orangtuanya karena kondisi kehamilan yang rentan.

BACA JUGA:
Polda Sumsel Bongkar Ladang Ganja 20 Hektar di Empat Lawang, 220 Kg Ganja Disita

Baca juga: Diplomat RI Tewas Tak Wajar di Menteng, Padahal Baru Ditugaskan ke Finlandia

Walau bekerja di luar negeri, Arya menyebut pekerjaannya jauh dari glamor, bahkan untuk ukuran lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Sebagai LS, kita harus menurunkan ekspektasi. Kadang pekerjaan hanya fotokopi, antar dokumen, atau kliping koran. Tapi saya terima dengan ikhlas,” tulisnya.

Meski begitu, dari sisi finansial, Arya mengaku cukup stabil dan bahkan bisa menabung untuk membeli tanah di kampung halaman. Ia hidup hemat karena tak perlu menyewa tempat tinggal, mess disediakan oleh KBRI, cukup membayar listrik.

“Saya bisa punya mobil, home theater, telepon high-end, bahkan menabung untuk membeli tanah. Untuk ukuran LS, ini luar biasa.”

Namun kebahagiaan itu tak lengkap. Pada Oktober 2011, istrinya melahirkan putri pertama mereka, Althea Alina Pangayunan, dalam kondisi darurat karena kehamilan yang bermasalah. Arya tidak bisa langsung pulang ke Indonesia karena harus mendokumentasikan kunjungan Menteri Luar Negeri saat itu, Marty Natalegawa.

BACA JUGA:
Sikat Mafia Energi! Bareskrim Ringkus 330 Tersangka Penyalahguna BBM dan LPG Subsidi dalam 13 Hari

“Saya baru bisa pulang satu minggu setelah anak saya lahir. Sampai di Jogja, saya tak bisa langsung menggendong Althea karena masih di inkubator. Pita pun masih sangat lemah.”

Arya kemudian kembali ke Myanmar, melanjutkan perjuangan sebagai diplomat sambil memantau pertumbuhan anaknya lewat Skype dan BBM yang kala itu jadi andalan komunikasi jarak jauh.

“Foto-foto dan video call jadi pengobat rindu. Walau jauh, saya mencoba tetap hadir.”

Kini, curhat masa lalu Arya itu seakan menjadi mozaik kehidupan yang perlahan tersingkap, di tengah penyelidikan polisi atas kematiannya yang janggal.

Ia ditemukan tewas dengan lakban menutup wajah, memunculkan dugaan kuat adanya unsur kekerasan.[]

TERKAIT LAINNYA