KETIKKABAR.com – Laga final turnamen sepak bola antar kampung (tarkam) Jalalive ISC 2025 berakhir ricuh.
Pertandingan yang digelar di Stadion Andalas Sianturi, Desa Kayuares, Kecamatan Pagentan, pada Minggu, 6 Juli 2025, itu diwarnai kerusuhan suporter yang menyebabkan tiga polisi terluka dan sejumlah fasilitas stadion rusak.
Kericuhan pecah pada menit ke-17 babak pertama saat GRKP FC mencetak gol kedua ke gawang Potato Reborn FC. Suporter Potato FC yang merasa dirugikan oleh keputusan wasit sontak menyerbu lapangan, memaksa pertandingan dihentikan.
“Petugas keamanan yang berusaha mengamankan wasit dan pemain justru dilempari batu, kayu, dan bambu oleh penonton dari arah tribun,” ungkap Kabag Ops Polres Banjarnegara, Kompol Priyo Jatmiko, Senin (7/7).
Akibat insiden ini, tiga anggota kepolisian mengalami luka ringan, sementara papan reklame, pagar pembatas, hingga papan sponsor mengalami kerusakan.
Meski dihadapkan pada situasi genting, 500 personel gabungan yang terdiri dari 300 anggota Polri, 60 anggota TNI, dan 140 pam swakarsa tetap bersikap profesional.
“Polisi tidak membalas aksi penonton. Kami hanya fokus pada pengamanan serta mengevakuasi wasit dan pemain,” tegas Priyo.
Baca juga: Air EV Terbakar Hebat di Bandung, Wuling Pastikan: “Bukan Karena Baterai!”
Sekitar pukul 17.55 WIB, petugas berhasil membubarkan massa dan menyisir area stadion hingga ke jalan raya.
Sesuai regulasi panitia, tim yang suporternya masuk ke lapangan saat laga berlangsung otomatis didiskualifikasi. Dengan demikian, GRKP FC dinyatakan sebagai juara Jalalive ISC 2025.
Pihak kepolisian masih mendata korban dan kerugian, serta belum ada warga yang diperiksa terkait kerusuhan ini.
Priyo menyebut, ke depan pihaknya akan lebih ketat dalam pemberian izin pertandingan, bahkan tidak segan menunda kompetisi jika berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.
Setyo Eko Nugroho, Sekretaris Umum Askab PSSI Banjarnegara, menyayangkan insiden yang mencoreng nama baik turnamen ini.
“Walaupun tarkam, kompetisi ini sangat istimewa. Menggunakan VAR dan diikuti pemain-pemain bintang lokal. Sayangnya, insiden kemarin mencederai semangat sportivitas,” ujarnya.
Setyo menyebut Jalalive ISC 2025 sebagai salah satu turnamen tarkam terbaik yang pernah digelar di Banjarnegara. Namun, insiden kekerasan ini menjadi catatan kelam yang perlu evaluasi serius dari seluruh pihak.[]











