KETIKKABAR.com – Suasana haru menyelimuti ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2025). Eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, hadir sebagai bentuk dukungan moral untuk sahabat lamanya, Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong, yang tengah menjalani persidangan atas kasus dugaan korupsi impor gula.
Meski sempat terlihat berbincang hangat dan tertawa kecil saat sidang diskors, suasana berubah drastis ketika Tom harus mengenakan rompi tahanan dan diborgol di hadapan publik. Anies yang sebelumnya tersenyum, mendadak terdiam dan tertunduk pilu, menyaksikan momen yang tak mudah itu.
“Saya datang sebagai sahabat dari Tom,” ujar Anies saat ditemui usai persidangan.
“Selama ini saya juga mengikuti seluruh jalannya persidangan, karena ada rekaman dan data-datanya.”
Momen ketika Tom Lembong melangkah keluar ruang sidang dengan tangan diborgol, menjadi potret memilukan yang menggambarkan bagaimana kekuasaan dan kekeliruan bisa membawa siapa saja ke titik terendah dalam hidup.
Anies terlihat menggelengkan kepala, seolah tak percaya sahabat yang dulu bersamanya dalam berbagai panggung kebijakan, kini harus menghadapi kenyataan pahit sebagai terdakwa kasus korupsi.
Baca juga: Nadiem Diperiksa! Proyek Chromebook Rp 9,9 T Disorot Kejagung
Dalam surat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tom Lembong diduga terlibat dalam korupsi importasi gula yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp578 miliar.
“Bahwa Terdakwa Thomas Trikasih Lembong sebagai Menteri Perdagangan sejak 12 Agustus 2015 sampai 27 Juli 2016 telah memperkaya diri sendiri atau orang lain yang merugikan keuangan negara sebesar Rp515,4 miliar dari total kerugian negara Rp578,1 miliar,” ucap JPU.
Tom Lembong didakwa melanggar: Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
(sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
Dikenal sebagai ekonom reformis dan mantan orang kepercayaan Presiden Jokowi di bidang perdagangan, nama Tom Lembong dulunya identik dengan modernisasi dan integritas. Namun kini, publik dihadapkan pada wajah lain dari birokrasi tinggi yang berujung pada jerat hukum.
Anies, yang juga berada dalam lingkar kekuasaan saat itu, memilih untuk tidak bicara soal substansi perkara. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa persahabatan tak berhenti di pintu sidang.
“Saya hanya ingin hadir untuk menyatakan dukungan pribadi. Saya mengikuti ini sebagai seorang sahabat,” kata Anies sambil berjalan meninggalkan kerumunan wartawan.[]


















