Hukum

Neraka di Rumah Mewah: ART Dipaksa Makan Kotoran Anjing

KETIKKABAR.com – Di balik megahnya kawasan elite Taman Golf Sukajadi, Batam, tersimpan kisah kelam yang mencabik hati nurani. Seorang asisten rumah tangga (ART) muda asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), bernama Intan, menjadi korban penyiksaan biadab oleh majikannya sendiri, Rosliana (44), hanya karena kesalahan sepele: lupa menutup kandang anjing.

Namun luapan amarah sang majikan berubah menjadi kebrutalan yang tak masuk akal. Intan dipukuli, dibenturkan ke dinding, dipaksa memakan kotoran anjing, hingga minum air dari septic tank.

“Bayangkan, manusia disuruh makan kotoran dan minum comberan hanya karena seekor anjing terluka,” ungkap Yosep Yingokodie, penasihat Perkumpulan Keluarga Sumba, dengan suara bergetar.

Tak hanya fisik, harga diri Intan juga dihancurkan. Selama bekerja di rumah mewah itu sejak Juni 2024, ia tak pernah dipanggil namanya sendiri. Sebutan seperti “anj*ng”, “ba*i”, dan “lon*e” menjadi panggilan sehari-hari.

“Dia tak dianggap manusia,” ujar Yosep.

Lebih ironis lagi, penyiksaan itu juga melibatkan sepupu kandung korban, Merlin (22), yang juga bekerja sebagai ART di rumah tersebut. Menurut pengakuan, Merlin ikut menyiksa karena takut dipukul jika tak menuruti perintah sang majikan.

BACA JUGA:
Kasus Pembunuhan Nus Kei: Dua Tersangka Terancam Hukuman Mati

Upaya Intan untuk melapor pun sempat gagal. Setelah mencoba mengadu melalui ponsel ART tetangga, ia justru dikurung selama dua minggu penuh.

Baca juga: Dijanjikan Jadi Penyanyi, Azwar Pulang dalam Peti Mati

Namun pada Minggu (22/6/2025), jeritan minta tolongnya akhirnya terdengar oleh warga. Ketua RT yang menerima laporan langsung mendatangi rumah Rosliana. Intan ditemukan dalam kondisi babak belur dan trauma berat.

Rosliana kini telah ditangkap dan resmi menjadi tersangka. Saat dibawa oleh polisi, tak sedikit pun terlihat penyesalan di wajahnya. Ia tampil dingin dengan baju tahanan berwarna oranye.

“Pemicu kekerasan karena anjing peliharaan luka akibat kandang tidak ditutup. Dari situlah kekerasan dimulai,” kata Kasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Debby Tri, Senin (23/6/2025).

Tak hanya Rosliana, Merlin juga dijadikan tersangka.

“Tersangka M (Merlin) mengaku ikut memukul karena diperintah oleh majikan. Keduanya sudah kami tahan,” tegas Debby.

Penyidikan polisi mengungkap kekerasan ini bukan terjadi sekali. Intan kerap disiksa bahkan untuk kesalahan kecil seperti terlambat bangun atau mengepel yang dianggap kurang bersih.

Ia juga tidak menerima gaji sepeser pun selama setahun bekerja.

BACA JUGA:
Seorang Pemuda di Bitung Tega Bunuh Ibu Kandung, Polisi Lakukan Pemeriksaan Kejiwaan

“Kami masih mendalami apakah ini semata kekerasan atau juga bentuk eksploitasi dan pelanggaran hak tenaga kerja,” tambah Debby.

Kasus ini juga menyeret suami Rosliana. Saat polisi hendak menangkap Rosliana, sang suami diketahui telah kabur ke Korea Selatan.

Belum diketahui pasti apakah pria tersebut mengetahui atau turut terlibat dalam kekerasan terhadap Intan.

Setelah diselamatkan, Intan kini dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Batam. Pendamping korban, Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus, menyebut korban masih mengalami trauma berat.

“Dia bahkan masih takut bertemu orang, termasuk dokter. Psikisnya benar-benar hancur,” ujar Pastor Paschal.

Ia menyebut pendampingan terhadap Intan akan terus dilakukan hingga pemulihan total, baik secara fisik maupun mental, serta selama proses hukum berlangsung.

Kasus memilukan ini membuka mata banyak pihak tentang realitas gelap yang bisa menimpa pekerja rumah tangga di lingkungan “berkelas”. Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, seorang gadis muda dari timur Indonesia justru menemukan neraka di rumah mewah.

“Kami akan kawal kasus ini hingga tuntas. Bukan hanya untuk Intan, tapi agar tak ada lagi Intan-Intan berikutnya,” pungkas Pastor Paschal.[]

TERKAIT LAINNYA