KETIKKABAR.com – Ketika algoritma jadi dewa dan “engagement” lebih penting dari etika, muncullah tren baru: uji nyali digital.
Kali ini, seorang konten kreator terekam menyusup ke wilayah suku terasing yang dikenal sangat tertutup dan sakral, demi konten viral yang bikin penonton bergidik.
Dalam video yang viral di akun TikTok @dnzh.travels, tampak seorang turis asing dengan kamera penuh semangat menembus batas budaya yang seharusnya dipelajari dulu, bukan langsung disambangi.
Suku yang dikunjungi bukan sembarang komunitas. Mereka adalah kelompok adat dengan ritual ketat, pantangan keras, dan sejarah yang jauh dari wisata foto-foto santai. Tapi demi view, kenapa tidak?
“Santai aja dulu,” mungkin pikir si bule, sebelum suasana berubah mencekam karena dianggap ancaman oleh warga adat.
Untung ada penerjemah lokal. Kalau tidak, barangkali alih-alih jadi seleb TikTok, sang konten kreator bisa viral dalam berita duka lintas negara.
Etika vs Viral: Siapa yang Menang?
Fenomena seperti ini bukan kali pertama. Di era konten instan, nyawa, privasi, dan norma budaya kerap dikorbankan di altar algoritma.
Yang lebih tragis, suku adat yang sudah lama berjuang menjaga eksistensi dan identitas malah diperlakukan seperti objek eksotis untuk tontonan digital.
Ini bukan sekadar pelesir ekstrem, tapi juga soal privilege, ketidaktahuan, dan kurangnya sensitivitas budaya.
Komentar Netizen: Cerdas, Satir, dan Pedas
Warganet pun tak tinggal diam. Beberapa komentar menjadi refleksi tajam:
-
“Njir kampung Slipknot,” tulis netizen, menyinggung topeng khas yang dipakai suku tersebut.
-
“Dia bisa bawa virus ke sana. Warga sana mungkin belum vaksin. Ini bukan cuma bahaya buat dia, tapi buat semua,” tulis komentar yang lebih sadar konteks.
-
“Konten kayak gini harusnya kena banned, bukan viral. Gak semua tempat bisa dijadiin backdrop,” kritik pengguna lainnya.[]

















