KETIKKABAR.com – Warganet Bali digemparkan oleh beredarnya ulang video lawas yang menampilkan tarian erotis berkedok joged bumbung.
Dalam video tersebut, seorang penari berkostum joged tampak menari dengan gerakan sensual di hadapan sejumlah pria yang duduk bersila sambil menikmati minuman keras.
Yang mengejutkan, sosok penari yang dikenal luas dengan nama Gek Wik itu ternyata seorang pria bernama asli Agus, warga Denpasar berusia 25 tahun. Dalam bahasa Bali, sapaan “Gek” biasa digunakan untuk menyebut perempuan muda.
Video itu memperlihatkan Agus berperan sebagai perempuan, melakukan tarian provokatif, bahkan bersentuhan tubuh dengan para penonton.
Meskipun merupakan rekaman lama, video tersebut kembali viral dan menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya di Bali.
Menanggapi hal itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali memanggil Agus untuk memberikan klarifikasi, Senin, 19 Mei 2025.
Kepala Satpol PP Bali, Dewa Nyoman Rai Dharmadi, menyatakan bahwa tindakan tersebut bukan karena videonya viral, melainkan karena tarian yang dilakukan dinilai melenceng dari pakem seni tradisional.
“Apa yang sudah beredar di media sosial itu bukan tarian joged, hanya kostumnya yang joged bumbung. Gerakannya jelas tidak sesuai pakem,” ujar Nyoman Rai seperti dikutip dari Antara.
Agus kemudian menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi aksinya. Satpol PP juga menekankan pentingnya tindakan preventif agar penari-penari joged bumbung lainnya tidak mengikuti jejak yang sama.
“Ini bukan hanya soal individu, tapi menyangkut marwah budaya Bali. Kami akan fasilitasi pertemuan penari dengan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pemajuan Masyarakat Adat agar dilakukan pembinaan,” ujar Nyoman.
Joged bumbung sendiri merupakan salah satu seni tari tradisional Bali yang semula berakar dari hiburan rakyat.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tarian ini kerap disalahartikan dan dijadikan pertunjukan berbau erotis.
“Menari erotis sama halnya dengan merusak citra seni tradisi dan budaya yang luhur. Kami imbau seluruh masyarakat Bali untuk bersama-sama menjaga kesakralan warisan budaya,” tutup Nyoman Rai.[]


















