KETIKKABAR.com – Di balik pagar putih gedung parlemen Senayan yang selama ini lebih banyak diwarnai riuh politik domestik, pekan ini hadir denyut diplomasi yang lebih luas: Konferensi Ke-19 Persatuan Parlemen Negara-Negara OKI (PUIC) resmi digelar di Jakarta pada 12–15 Mei 2025.
Untuk pertama kalinya, DPR RI menjadi tuan rumah sekaligus Presiden PUIC, merayakan 25 tahun organisasi parlemen dunia Islam ini. Namun lebih dari sekadar seremoni, Ketua DPR Puan Maharani menegaskan bahwa konferensi ini adalah ajang uji kepemimpinan moral Indonesia.
“DPR RI siap hadir sebagai jembatan dialog, kolaborasi, dan transformasi antarparlemen dunia Islam,” ujar Puan dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (10/5).
Good Governance di Tengah Krisis
Dengan tema “Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience”, PUIC 2025 diarahkan untuk menyentuh akar persoalan dunia Islam: lemahnya kelembagaan, krisis kemanusiaan, dan hilangnya suara kolektif dalam isu-isu global.
Di hadapan 500 peserta dari 57 negara anggota dan pengamat, DPR RI ingin menjadikan PUIC sebagai forum lintas batas yang bukan hanya mempertemukan legislator, tetapi juga memantik diplomasi berbasis solusi.
Tak bisa dimungkiri, bayang-bayang krisis di Palestina, perang proksi di Timur Tengah, dan kemiskinan struktural masih membekap sebagian besar negara OKI. PUIC 2025, menurut Puan, menjadi momen untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan tekanan nyata dari jalur parlemen.
Dari Bandung ke Jakarta
Tak hanya simbolik, penyelenggaraan PUIC ini juga mengandung nuansa sejarah. Berlangsung sebulan setelah peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, semangat anti-kolonial dan solidaritas global dari 1955 seolah beresonansi kembali.
“PUIC 2025 adalah kelanjutan dari semangat Bandung,” tegas Puan. Sebuah pengingat bahwa diplomasi bukan hanya milik para presiden dan menteri luar negeri, tapi juga para legislator yang bisa menggerakkan simpul rakyat.
Dengan kehadiran 11 ketua parlemen dan 8 wakil ketua dari negara-negara OKI, termasuk dari Malaysia, Pakistan, dan Afrika Utara, gelaran ini dinilai sebagai salah satu pertemuan paling representatif dalam sejarah PUIC.
Indonesia, Wajah Demokrasi Dunia Islam?
Di mata internasional, Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar yang tetap menjaga napas demokrasi dalam ruang publiknya. Menjadi presiden PUIC dan tuan rumah konferensi ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai motor moderat dan inklusif dalam peta politik Islam global.
Dari Senayan, suara dunia Islam bergema. Bukan dalam bentuk retorika, tetapi melalui agenda konkret: penguatan parlemen, transparansi pemerintahan, dan diplomasi kemanusiaan. Di sinilah mimpi tentang dunia Islam yang kuat karena lembaganya, bukan karena kekuasaan semata—dibicarakan, dirumuskan, dan mudah-mudahan, diwujudkan.[]










