KETIKKABAR.com – Gelombang kritik mengarah pada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menyusul gelaran forum Bahtsul Masail pada 30 April 2025 yang menggandeng perusahaan multinasional Danone Aqua.
Forum tersebut menuai polemik setelah disebut-sebut “membela” posisi Danone di tengah meningkatnya boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang ditengarai terafiliasi dengan kepentingan Israel, di saat agresi militer terhadap rakyat Palestina masih berlangsung.
Kader muda NU dari Jaringan Muslim Madani, Sukron Jamal, menyatakan bahwa forum Bahtsul Masail seharusnya difokuskan pada isu-isu keumatan yang bersifat mendasar, bukan justru menjadi ruang legitimasi korporasi global.
“Objek dasar kajian forum ini semestinya adalah persoalan keumatan, bukan untuk mengakomodasi kepentingan segelintir pihak atau menjernihkan citra bisnis,” ujarnya, Sabtu (10/5/2025).
Pertanyaan atas Independensi Forum
Sukron menyoroti kurangnya transparansi dalam paparan pihak Danone Indonesia dalam forum tersebut. Ia menyebut pernyataan bahwa Danone tidak memiliki keterkaitan dengan Israel sebagai “informasi yang tidak komprehensif.” Ia merujuk pada rekam jejak investasi Danone Ventures, sayap investasi dari Danone Global pada perusahaan teknologi pangan asal Israel, WILK, yang terjadi pada 2023.
Lebih jauh, Sukron juga menyinggung relasi bisnis antara Danone S.A. yang berbasis di Prancis dengan Strauss Group, salah satu konglomerasi makanan terbesar di Israel.
“Hubungan-hubungan ini tidak diklarifikasi secara transparan dalam forum Bahtsul Masail,” tegasnya.
Menurut Sukron, posisi moral NU dalam membela kemerdekaan Palestina mestinya diwujudkan dalam sikap tegas terhadap entitas bisnis yang memiliki keterkaitan dengan Israel.
“Maka cukup beralasan kita melakukan boikot terhadap produk-produknya sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan menentang penjajahan Israel,” ucapnya.
Respons Publik dan Aktivis Digital
Sorotan terhadap PWNU Jakarta juga datang dari aktivis media sosial Aresdi Mahdi alias Habib Ama. Dalam pernyataan sarkastiknya, ia menyinggung langkah pembelaan terhadap Danone Aqua sebagai bentuk “kerugian identitas.” “Rugi amat kalau nggak minum Aqua, sampai harus dibela dengan cara-cara lucu begini,” tulisnya di platform X.
Ia bahkan menyarankan agar warga NU mendukung produk-produk lokal semisal air mineral Santri Segar yang disebutnya bagian dari keluarga besar NU.
Dilema Etik antara Kapitalisme Global dan Gerakan Keumatan
Kontroversi ini menempatkan NU, sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dalam pusaran dilema antara idealisme perjuangan kemanusiaan dan realitas kapitalisme global.
Apakah forum keagamaan bisa tetap netral ketika bersanding dengan korporasi besar? Apakah langkah PWNU Jakarta mencerminkan sikap institusional atau sekadar manuver lokal?
Belum ada pernyataan resmi dari PWNU Jakarta menanggapi kritik tersebut. Namun polemik ini menjadi peringatan keras bagi ormas keagamaan untuk menjaga integritas ruang-ruang keilmuan dan keagamaan dari intervensi kepentingan bisnis.[]




















