Ekonomi

Banda Aceh Bersiap Jadi Kota Parfum Indonesia, Wamendagri Kunjungi Landmark BSI Aceh

KETIKKABAR.com – Banda Aceh bersiap menorehkan sejarah baru sebagai Kota Parfum Indonesia.

Sebagai bagian dari langkah strategis menuju peluncuran resmi inisiatif tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan kunjungan spesial ke Landmark Bank Syariah Indonesia (BSI) Aceh pada Kamis (23/5).

Kunjungan ini merupakan rangkaian kegiatan Seminar dan Lokakarya (Semiloka) bertajuk “Road to Launching Banda Aceh Kota Parfum Indonesia”.

Turut mendampingi, Sekretaris Utama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Dessy Ruhati, serta Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, IPU.

Kehadiran para tokoh nasional dan akademisi tersebut disambut hangat oleh Regional CEO BSI Aceh, Wachjono, bersama jajaran pejabat BSI.

BACA JUGA:
Jerat dan Kuliti Harimau Sumatera, Petani Aceh Tenggara Diadili

Landmark BSI dipilih bukan hanya karena letaknya yang strategis dan gedungnya yang representatif, namun juga karena kontribusinya yang nyata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi syariah dan industri kreatif lokal di Aceh.

“BSI berkomitmen terus menghadirkan inisiatif strategis seperti pembiayaan mikro, pelatihan digitalisasi, dan pendampingan UMKM. Kolaborasi bersama Pemko Banda Aceh, USK, dan pelaku lokal akan mempercepat kemajuan industri kreatif di Aceh,” tegas Wachjono.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa program “Kota Parfum” adalah wujud nyata dari transformasi warisan lokal menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan.

“Kami ingin menyatukan kekayaan aroma Aceh – seperti nilam, serai wangi, cengkeh, kopi, dan kayu manis dengan teknologi, seni, dan kewirausahaan, demi menghasilkan produk unggulan berdaya saing global,” ujarnya.

BACA JUGA:
OJK Aceh Dorong TPAKD Susun Program Berbasis Data untuk Perluas Akses Keuangan

Semiloka ini menjadi ruang sinergi antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif.

Potensi alam Aceh, terutama dari tanaman atsiri seperti nilam yang selama ini menjadi primadona industri parfum dunia, dinilai sebagai kunci utama pengembangan ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.

Banda Aceh pun dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat industri parfum nasional.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang kokoh, Pemko Banda Aceh dan USK berambisi mendorong riset, inovasi, dan hilirisasi produk berbasis atsiri sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.[]

TERKAIT LAINNYA