Ekonomi

BI Aceh Perkuat Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Masyarakat

KETIKKABAR.com, Banda Aceh — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Aceh menggelar bedah buku Moneyfesting: Sebuah Perjalanan Memaknai Kekayaan dalam Islam di Balee Meuseuraya Aceh, Banda Aceh, Jumat, 23 Oktober 2026.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 500 peserta itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah di masyarakat.

Peserta kegiatan berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga komunitas literasi. Bedah buku tersebut merupakan agenda rutin KPwBI Provinsi Aceh melalui Perpustakaan Bank Indonesia Aceh.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Hertha Bastiawan, mengatakan Aceh memiliki modal kuat dalam pengembangan literasi keuangan syariah.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat Aceh sebagai provinsi dengan indeks literasi keuangan syariah tertinggi di Indonesia.

“Pemahaman yang baik ini perlu terus kita jaga dan wujudkan dalam kebiasaan sehari-hari, mulai dari cara kita mencari nafkah, berbelanja, menabung, hingga berbagi. Lewat buku dan diskusi yang santai, kami ingin ekonomi syariah terasa lebih dekat bagi masyarakat,” ujar Hertha.

Kegiatan ini juga mengangkat pentingnya pengelolaan keuangan di tengah kemudahan transaksi digital. Akses pembayaran melalui telepon genggam dinilai mempermudah aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat mendorong perilaku konsumtif, terutama di kalangan generasi muda.

Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kekayaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah harta yang dimiliki, tetapi juga cara memperoleh, mengelola, dan menggunakannya.

Penulis Moneyfesting Bagikan Pengalaman Mengelola Keuangan

Penulis buku Moneyfesting, Dewi R.D. Amelia, hadir sebagai narasumber. Perencana keuangan syariah yang dikenal dengan nama deramelia itu menuangkan pengalaman pribadinya sebagai bagian dari generasi sandwich yang ikut menanggung kebutuhan keluarga.

BACA JUGA:  Dek Fadh Bersama Wakil Ketua KPK Serahkan Penghargaan Desa Antikorupsi kepada 15 Gampong di Aceh

Pengalaman yang ia gambarkan sebagai perjalanan “dari minus menuju makna” tersebut menjadi dasar pembahasan tentang pola pikir keuangan yang sehat dan pengelolaan harta sesuai prinsip syariah.

Menurut Dewi, Moneyfesting bukan sekadar membayangkan keinginan finansial tanpa tindakan. Tujuan keuangan, kata dia, perlu disertai niat baik, keyakinan, doa, dan ikhtiar.

“Ngatur uang itu bisa jadi ibadah,” ujarnya.

Dewi mengajak peserta memahami pengelolaan harta melalui tiga prinsip Islam, yakni halal, amanah, dan barakah.

Halal berkaitan dengan cara memperoleh harta, amanah menyangkut cara mengelola dan mempertanggungjawabkannya, sedangkan barakah berkaitan dengan penggunaan harta untuk kebaikan tanpa menjauhkan seseorang dari tujuan akhirat.

Ia juga membagikan sejumlah langkah praktis dalam mengelola keuangan. Pertama, menjaga arus kas tetap positif dengan memastikan pengeluaran tidak melebihi pemasukan.

Kedua, menyusun anggaran berdasarkan prioritas. Pengeluaran wajib, seperti zakat, cicilan, dan biaya sekolah anak, perlu didahulukan sebelum kebutuhan pokok dan keinginan lainnya.

BACA JUGA:  BI Dorong Pemulihan Pascabencana, Ekonomi Aceh Tumbuh 4,86 Persen

Ketiga, melunasi utang konsumtif karena utang berarti menggunakan sebagian penghasilan pada masa mendatang. Keempat, membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara konsisten.

Menurut Dewi, menabung bukan berarti tidak percaya pada rezeki dari Allah, melainkan bagian dari ikhtiar dalam mengelola keuangan.

“Memulai dari titik minus atau nol itu tak apa. Kita akan belajar banyak hal dalam perjalanannya,” pesan Dewi kepada peserta.

BI Aceh Hadirkan Literasi Keuangan Interaktif

Diskusi dipandu akademisi ekonomi syariah, Ledy Br Ginting. Para peserta mengajukan pertanyaan mengenai pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga. Kegiatan juga dilengkapi kuis untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.

Bank Indonesia Aceh berharap kegiatan tersebut mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, lebih bijak mengambil keputusan keuangan dan menerapkan nilai-nilai syariah dalam kehidupan sehari-hari.

Selain bedah buku, Perpustakaan Bank Indonesia Aceh membuka booth interaktif selama Meuseraya Festival yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di Balee Meuseuraya Aceh. Pengunjung dapat menambah pengetahuan melalui berbagai permainan edukatif yang disediakan.

Melalui kegiatan literasi tersebut, Bank Indonesia Aceh berupaya mendekatkan pemahaman ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat sekaligus mendukung pengembangan Aceh sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah. []

TERKAIT LAINNYA