KETIKKABAR.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menggelar rapat kabinet keamanan pada Senin (18/5/2026) untuk membahas kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran.
Rapat ini dilakukan hanya berselang sehari setelah pertemuan serupa dan komunikasi intensif dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Surat kabar Israel, Hayom, mengutip sejumlah sumber pejabat yang menyebutkan bahwa koordinasi antara Netanyahu dan Trump saat ini telah bergeser dari pembahasan mengenai rencana serangan ke arah penentuan waktu eksekusi.
Menurut para pejabat tersebut, operasi militer mendatang diprediksi akan berbeda secara signifikan dibandingkan aksi sebelumnya.
Rencana serangan ini disinyalir menargetkan lokasi-lokasi strategis di Iran yang sebelumnya tidak tersentuh dalam operasi militer terdahulu.
Langkah ini diambil di tengah dinamika posisi AS yang sempat menyatakan pembatalan serangan. Melalui platform Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa keputusan pembatalan sebelumnya diambil atas permintaan sejumlah negara Teluk, khususnya Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026.
Aksi tersebut memicu eskalasi berupa serangan balasan dari Iran serta pemblokadean jalur logistik krusial di Selat Hormuz.
Upaya diplomatik melalui mediasi Pakistan sempat membuahkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April 2026. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Namun, hingga saat ini, kedua pihak belum mencapai kesepakatan perdamaian permanen, yang menjadikan situasi keamanan kawasan tetap rentan terhadap konflik lanjutan.[]










