Politik

Din Saja: Jangan Selektif Bela Beutong Ateuh, Martabat Daerah Harus Dijaga Secara Utuh

KETIKKABAR.com — Budayawan dan seniman senior Aceh, Din Saja, yang juga dikenal dengan nama Fachruddin Basyar, menyoroti dinamika suara sejumlah tokoh yang belakangan terlihat lantang membela Beutong Ateuh Banggalang.

Menurut Din Saja, sikap membela tanah kelahiran adalah sesuatu yang baik dan patut dihargai. Namun, pembelaan terhadap Beutong Ateuh tidak boleh dilakukan secara selektif, apalagi hanya muncul pada isu tertentu, sementara pada persoalan lain yang menyangkut marwah dan hak wilayah justru tidak terdengar suara yang sama kuat.

“Kalau benar membela Beutong Ateuh, maka pembelaan itu harus utuh. Jangan hanya bersuara ketika ada investasi, tetapi diam saat ada persoalan kawasan hutan, batas wilayah, dan dugaan penguasaan lahan yang merugikan masyarakat Beutong Ateuh,” ujar Din Saja.

Ia mempertanyakan sikap sejumlah tokoh Beutong Ateuh Banggalang ketika muncul persoalan dugaan pengambilan atau penguasaan kawasan hutan di wilayah Paya Dapat, Alue Badeuk, dan sejumlah kawasan sekitar yang disebut-sebut berkaitan dengan wilayah tetangga, Aceh Tengah.

“Pertanyaannya, di mana suara tokoh-tokoh itu ketika hutan Beutong Ateuh diduga diambil dan dikuasai pihak luar? Mengapa diam? Ada apa? Padahal itu menyangkut harkat, martabat, dan masa depan Beutong Ateuh Banggalang yang sebenarnya,” tegasnya.

BACA JUGA:
Harga Minyakita di Atas HET Bentuk Kegagalan Zulhas sebagai Menko Pangan

Din Saja menilai, menjaga martabat daerah bukan hanya soal menolak atau menerima investasi. Lebih dari itu, menurutnya, masyarakat dan tokoh lokal harus memiliki keberanian moral untuk menjaga tanah, hutan, adat, dan hak-hak masyarakat secara konsisten.

Ia mengingatkan, investasi seharusnya tidak langsung dipandang sebagai ancaman selama dilakukan secara terbuka, adil, tidak merusak lingkungan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Karena itu, setiap penolakan maupun dukungan terhadap investasi perlu diletakkan dalam ruang dialog yang sehat, bukan sekadar kecurigaan atau tekanan emosional.

“Investasi boleh dikritisi, boleh dikawal, tetapi jangan serta-merta dihalang-halangi tanpa melihat manfaat dan aturan yang berlaku. Yang penting, masyarakat tidak dirugikan, lingkungan dijaga, dan hak Beutong Ateuh tetap dihormati,” katanya.

Sebagai budayawan, Din Saja juga memberi pesan agar tokoh masyarakat tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Menurutnya, seorang tokoh seharusnya menjadi penyejuk, pemberi arah, dan penjaga martabat kampung, bukan memperkeruh keadaan.

BACA JUGA:
DPRA Desak Pusat Segera Bentuk Balai Kereta Api di Aceh

“Tokoh itu harus bijak. Kalau bersuara, suaranya harus untuk kebenaran dan kepentingan rakyat banyak. Jangan sampai rakyat bingung melihat tokohnya keras pada satu persoalan, tapi diam pada persoalan lain yang lebih menyentuh harga diri daerah,” ucapnya.

Din Saja berharap persoalan Beutong Ateuh Banggalang dapat disikapi dengan kepala dingin, hati yang jernih, dan keberanian untuk membuka fakta secara terang. Ia juga mendorong pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemuda setempat duduk bersama membicarakan masa depan Beutong Ateuh secara bermartabat.

“Beutong Ateuh Banggalang ini punya sejarah, punya adat, punya kehormatan. Jangan sampai masyarakatnya hanya menjadi penonton di atas tanah sendiri. Semua pihak harus jujur, jangan pilih-pilih dalam membela daerah,” pungkasnya. []

TERKAIT LAINNYA