Nasional

Prabowo: Menteri Datang ke Lokasi Bencana Bukan untuk “Macul”, Tapi Percepat Bantuan!

KETIKKABAR.com – Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat koordinasi penanggulangan bencana wilayah Sumatera yang dipusatkan di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis, 1 Januari 2026.

Dalam arahannya, Prabowo menyoroti stigma negatif yang kerap dialamatkan publik kepada para pejabat negara saat meninjau lokasi bencana.

Prabowo mengaku menyadari adanya kritik masyarakat yang menganggap kehadiran menteri di lokasi bencana hanya sebatas seremoni atau pencitraan.

“Jadi saya pernah dengar ada kritik, untuk apa menteri datang ke tempat bencana, hanya datang melihat. Serba susah, menteri datang dibilang enggak peduli, menteri datang.., masa menteri ikut macul, bukan itu,” kata Prabowo dalam rapat yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Fungsi Pejabat di Lokasi Bencana

Menurut Prabowo, kehadiran pejabat di titik bencana memiliki fungsi strategis, yakni untuk melakukan identifikasi masalah secara langsung agar bantuan dapat disalurkan dengan cepat dan tepat sasaran.

BACA JUGA:
Bupati Aceh Besar dan DPR RI Tinjau Lokasi SPAM Regional di Leupung

Ia menegaskan bahwa tugas pemimpin bukan untuk melakukan pekerjaan teknis seperti mencangkul, melainkan mempercepat birokrasi penanganan.

“Pejabat datang, pemimpin datang, melihat apa kekurangan, apa masalah, apa yang bisa dibantu, apa yang bisa dipercepat,” ungkap dia.

Prabowo mencontohkan pola komunikasinya dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Ia menyebut koordinasi langsung sangat efektif untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan.

“Saya datang ke gubernur, Pak saya butuh ini, butuh ini, kan begitu ceritanya. Tapi mudah-mudahan saya percaya dengan bukti. Jadi saya sampaikan ke saudara, para pimpinan, para menteri, kepala, badan, gubernur semua,” beber Prabowo.

Pesan untuk Para Pimpinan

Menutup arahannya, Prabowo mengingatkan jajarannya agar tidak antikritik. Ia meminta para menteri, kepala badan, hingga gubernur untuk tetap fokus bekerja meskipun diterpa opini negatif di media sosial maupun masyarakat.

Prabowo menekankan bahwa keteguhan hati adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin dalam menghadapi tekanan publik di tengah situasi darurat.

BACA JUGA:
Juri LCC Empat Pilar di Kalbar Dinonaktifkan, Sekjen MPR: Ada Prosesnya!

“Salah satu kewajiban pemimpin adalah siap untuk dihujat, difitnah, tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat. Semua kita terima sebagai koreksi,” tutup Prabowo.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden juga dijadwalkan meninjau beberapa titik pengungsian dan memastikan ketersediaan logistik menjelang persiapan masa pemulihan pasca-banjir di Aceh Tamiang. []

Babak Baru Hukum Indonesia: Mulai 2 Januari, Penjara Bukan Lagi Satu-satunya Solusi

TERKAIT LAINNYA