KETIKKABAR.com – Hizbullah mengejutkan banyak pihak dengan tidak ikut serta dalam perang besar antara Iran dan Israel yang pecah pertengahan Juni 2025.
Namun keputusan itu, menurut pakar Timur Tengah Tal Beeri, bukan karena Hizbullah melemah atau takut pada kekuatan militer Israel. Alasan sebenarnya jauh lebih ideologis dan strategis.
“Tidak ada arahan agama,” tegas Beeri, Kepala Departemen Penelitian Alma Center, dalam laporan terbarunya, dikutip The Jerusalem Post, Minggu (6/7/2025).
Dalam perang yang berlangsung dari 13 hingga 24 Juni 2025, Hizbullah menahan diri meski Israel terus menggempur wilayah selatan Lebanon dalam operasi “memotong rumput” terhadap infrastruktur kelompok tersebut.
Tapi, menurut Beeri, bukan tekanan publik Lebanon atau kekuatan Israel yang membuat Hizbullah mundur.
“Jika ada perintah dari otoritas religius tertinggi Syiah, mereka akan ikut bertempur. Tapi itu tidak terjadi. Tanpa arahan agama, Hizbullah tidak akan bergerak,” katanya.
Baca juga: “Jangan Serbu Gaza!” Panglima Israel Peringatkan Nyawa Sandera dalam Bahaya
Beeri menjelaskan bahwa keputusan strategis Hizbullah, termasuk peluncuran operasi militer atau teroris, selalu berakar pada legitimasi fatwa atau perintah keagamaan dari Wilayat al-Faqih yang tak lain adalah Pemimpin Tertinggi Iran.
Beeri membantah keras narasi bahwa Hizbullah melemah akibat tekanan internal. Menurutnya, struktur sosial-politik kelompok itu—yang dikenal sebagai “Masyarakat Perlawanan” masih solid dan tetap mendapatkan dukungan kuat dari basis komunitas Syiah di Lebanon.
“Aspek tekanan publik atau krisis domestik tidak cukup kuat untuk memaksa Hizbullah berhenti. Mereka masih berada dalam ‘zona toleransi’ dan tetap menjaga kestabilan di internal,” jelas Beeri.
Sebaliknya, ia menilai Hizbullah justru tengah memanfaatkan masa damai ini untuk merekonstruksi kekuatan militer secara diam-diam, setelah mengalami pukulan berat dari Israel.[]

















