Internasional

Skandal Tepung Narkoba: Bantuan Atau Perang Psikologis?

KETIKKABAR.com – Derita warga Gaza seolah tak punya ujung. Setelah dibombardir secara fisik, kini mereka dituding jadi sasaran perang mental melalui tepung berisi narkoba yang dikemas sebagai “bantuan kemanusiaan.”

Tudingan mengejutkan ini dilontarkan oleh Kantor Media Pemerintah Gaza, yang secara terbuka menuduh lembaga bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) sebuah entitas yang diklaim didukung oleh Amerika Serikat dan Israel telah menyelundupkan zat adiktif berbahaya ke dalam kantong-kantong tepung yang dibagikan kepada masyarakat Palestina.

Dalam pernyataan resminya, Sabtu (28/6/2025), otoritas Gaza menyebut tindakan ini sebagai “kejahatan mengerikan terbaru” dalam daftar panjang penderitaan rakyat Palestina.

“Kami sepenuhnya memegang pendudukan Israel bertanggung jawab atas kejahatan ini. Tujuannya jelas: menyebarkan kecanduan dan menghancurkan masyarakat Palestina dari dalam,” tegas otoritas Gaza dalam pernyataan kepada Al Arabiya.

Baca juga: Tepung Maut! Pil Narkoba Ditemukan di Bantuan AS-Israel untuk Gaza

BACA JUGA:  Satpol PP dan WH Aceh Besar Tertibkan Belasan Lapak dan Kanopi PKL di kawasan Gampong Tanjong Selamat

Tuduhan ini mencuat ke publik setelah seorang apoteker lokal, Omar Hamad, membagikan temuannya lewat platform X (dulu Twitter).

Dalam video yang viral, ia menyatakan telah menemukan oksikodon, sejenis opioid yang sangat kuat dan biasa diresepkan sebagai pereda nyeri  dalam sejumlah sampel tepung bantuan dari GHF.

“Tepung ini bukan sekadar makanan, tapi racun yang dibungkus derma,” tulisnya.

Temuan ini menimbulkan kecurigaan besar, apalagi GHF baru beroperasi sejak 26 Mei lalu — tepat setelah Israel memutus total akses bantuan kemanusiaan dari dunia luar selama lebih dari dua bulan. Sebuah “kebetulan” yang kini dicurigai sebagai manuver terencana.

Menurut Komite Anti-Narkoba Gaza, zat yang ditemukan dalam tepung menunjukkan potensi manipulasi psikososial besar-besaran.

Jika benar, ini bisa berarti bahwa bantuan pangan telah berubah menjadi senjata senyap, dirancang untuk melemahkan daya tahan mental warga Palestina yang telah lama hidup dalam tekanan militer, blokade, dan trauma.

BACA JUGA:  YouTuber Travel Asal Thailand Hlun Solo Ditemukan Tewas di Georgia, Otoritas Lakukan Investigasi

Warga Gaza kini dihimbau untuk memeriksa setiap bantuan pangan yang mereka terima, terutama dari lembaga-lembaga yang dinilai tidak independen atau punya afiliasi geopolitik tertentu.

Baca juga: “Kemunafikan!”: Rusia Guncang Sidang PBB Soal Israel dan Senjata Nuklir

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali mengecam Israel atas penggunaan kelaparan sebagai instrumen militer.

Dalam catatan tertulis yang dirilis Selasa (24/6/2025), Kantor HAM PBB menyebut lebih dari 410 warga Palestina tewas, dan sedikitnya 3.000 lainnya luka-luka saat mencoba mengambil bantuan di titik distribusi.

“Warga Gaza kini dihadapkan pada pilihan yang tidak manusiawi: mati kelaparan atau ditembak saat mencari makanan,” tegas laporan tersebut.

Pada Mei 2025, PBB juga telah mengeluarkan pernyataan darurat bahwa 100 persen populasi Gaza berada dalam risiko kelaparan ekstrem.[]

TERKAIT LAINNYA