KETIKKABAR.com – Suasana tegang menyelimuti ruang sidang markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika delegasi Rusia melontarkan pernyataan yang mengguncang norma diplomatik global.
Dalam forum yang sejatinya difokuskan pada isu perlucutan senjata nuklir, justru pecah bentrokan verbal yang menggugah kesadaran dunia: standar ganda dalam kebijakan non-proliferasi.
“Sangat aneh bagi kami bahwa Israel duduk di sini. Israel bukan penandatangan NPT. Kenapa mereka ada di sini?! Kemunafikan!” tegas perwakilan Rusia, dengan suara yang memecah kesunyian forum Dewan Keamanan PBB.
Ungkapan itu tak sekadar kritik. Ia menampar wajah kebijakan internasional yang selama ini enggan menyentuh isu nuklir Israel. Para delegasi terdiam. Beberapa bahkan tampak tak percaya bahwa tabu lama akhirnya pecah di forum paling bergengsi dunia.
Meski selama bertahun-tahun dunia memperdebatkan isu nuklir Iran, Korea Utara, dan bahkan Rusia sendiri, nama Israel nyaris selalu lolos dari radar sanksi dan tekanan.
Padahal, konsensus diam-diam menyebutkan negara itu memiliki puluhan hingga ratusan senjata nuklir, namun tak pernah secara resmi mengakuinya.
Lebih parah lagi, Israel bukan bagian dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) pilar utama dalam pengendalian senjata nuklir global. Dan berbeda dengan negara anggota NPT, Israel tak pernah mengizinkan inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklirnya.
Baca juga: Tepung Maut! Pil Narkoba Ditemukan di Bantuan AS-Israel untuk Gaza
Namun anehnya, negara itu tetap hadir dan dihormati dalam forum-forum seperti ini, seolah membuktikan bahwa hukum internasional hanya berlaku bagi pihak yang kalah kuat.
Kritik Rusia bukan tanpa risiko. Banyak yang menilai langkah itu sebagai permainan geopolitik untuk menyerang blok Barat.
Tapi satu hal yang tak bisa dipungkiri: seruan itu menggema hingga ke luar gedung PBB, memicu diskusi publik global yang selama ini terkubur dalam ketakutan dan kepatuhan diplomatik.
Media sosial meledak. Tagar seperti #IsraelNukes, #DoubleStandardsUN, dan #NPTHypocrisy menjadi trending di berbagai negara.
Publik mulai mempertanyakan: Mengapa satu negara bisa bebas dari aturan yang mengikat negara lain hingga kelumpuhan ekonomi dan isolasi diplomatik?
Langkah Rusia ini dianggap oleh banyak pihak sebagai pembuka jalan menuju diskusi yang lebih jujur dan setara tentang pengawasan nuklir.
Dunia multipolar yang mulai terbentuk menuntut transparansi yang sama terhadap semua negara, tanpa kecuali.
“Jika dunia ingin berbicara tentang perdamaian dan keamanan, maka keadilan harus dimulai dari forum ini, dari PBB sendiri,” tulis seorang netizen dari Pakistan.[]


















