KETIKKABAR.com — Jaringan kelistrikan yang memasok pasokan ke kawasan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, mengalami kerusakan akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) yang dilancarkan oleh kelompok Houthi asal Yaman pada Selasa pagi, 29 September 2026 waktu setempat.
Berdasarkan laporan The National yang dirilis pada Jumat, 2 Oktober 2026, insiden tersebut menghantam sebuah transformator listrik vital di kota suci tersebut di tengah eskalasi konflik regional yang kian memanas.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman langsung melakukan investigasi mendalam dengan memeriksa puing-puing drone yang jatuh.
Hasil pemeriksaan tersebut mengonfirmasi keterlibatan kelompok militan Houthi dalam merencanakan serta mengeksekusi serangan berbahaya tersebut.
Juru bicara militer Saudi, Mayjen Turki Al Malki, melayangkan kecaman keras atas aksi yang secara terang-terangan menyasar fasilitas publik di dekat salah satu situs paling suci dalam agama Islam.
“Pemeriksaan puing-puing pesawat tak berawak tersebut memastikan keterlibatan milisi Houthi yang teroris dalam merencanakan dan melaksanakan aksi teroris pengecut ini,” ujar Al Malki.
Insiden penyerangan di Madinah ini tercatat sebagai kejadian kedua dalam kurun waktu dua pekan terakhir yang mengancam situs-situs suci di Arab Saudi.
Sebelumnya, koalisi Saudi berhasil menghancurkan sebuah drone Houthi di wilayah selatan Makkah sebelum sempat memasuki zona udara terlarang di kota suci tersebut.
Rentetan peristiwa ini dinilai sebagai bentuk provokasi terbuka terhadap jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Kecaman Internasional dan Eskalasi Konflik Yaman
Aksi brutal kelompok Houthi ini langsung menuai kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Al Budaiwi, menyatakan bahwa tindakan tersebut telah melanggar seluruh batasan norma internasional serta merupakan eskalasi serius terhadap kesucian situs-situs Islam.
Senada dengan hal tersebut, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) turut mengecam keras serangan itu sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan Arab Saudi sekaligus ancaman nyata bagi stabilitas kawasan.
Peningkatan intensitas serangan ini terjadi seiring memanasnya kembali medan pertempuran darat antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman.
Pada Kamis, bentrokan bersenjata dilaporkan meletus di sejumlah titik di Provinsi Taiz, di mana pasukan pemerintah berhasil memukul mundur serbuan Houthi setelah pertempuran berlangsung selama berjam-jam.
Konflik berkepanjangan di Yaman sendiri telah membara sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun 2014 silam.
Di tengah pusaran konflik yang terus membahayakan kawasan, pemerintah Arab Saudi pada hari Kamis mengumumkan penyaluran bantuan finansial senilai lebih dari 224 juta Riyal atau setara dengan 60 juta Dolar AS kepada pemerintah resmi Yaman.
Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohammed Al Jabir, menjelaskan bahwa kucuran dana tersebut difokuskan untuk menjaga stabilitas keuangan negara sekaligus mendongkrak daya beli masyarakat di tengah krisis kemanusiaan akut yang hingga kini masih melanda jutaan warga Yaman.[]










