Internasional

Guangxi Diguncang Gempa Magnitudo 5,2 Usai Kunjungan Kenegaraan Donald Trump

KETIKKABAR.com – Wilayah Guangxi di bagian barat daya Tiongkok luluh lantak diguncang gempa bumi berkekuatan 5,2 Magnitudo pada Senin (18/5/2026) dini hari.

Guncangan kuat tersebut dilaporkan terasa hingga ke wilayah Vietnam dan memaksa sedikitnya 7.000 warga setempat mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan laporan The Straits Times, bencana alam ini merenggut dua korban jiwa dan menyebabkan satu orang warga dinyatakan hilang.

Korban meninggal dunia terkonfirmasi merupakan pasangan suami istri, masing-masing seorang pria berusia 63 tahun dan wanita berusia 53 tahun.

Dampak visual di lapangan menunjukkan sedikitnya 13 bangunan roboh total akibat tidak kuat menahan getaran. Selain kerusakan infrastruktur pemukiman, gempa ini memicu gangguan transportasi massal yang cukup masif, termasuk penghentian total operasional jaringan kereta api di wilayah terdampak demi keselamatan.

BACA JUGA:
50 Pasangan Yatim Piatu di Gaza Ikuti Nikah Massal

Bencana tektonik ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama rombongan menyelesaikan kunjungan kenegaraan tiga hari di China dan bertolak pulang pada Jumat (15/5/2026).

Selama di Beijing, Trump menggelar pertemuan bilateral tingkat tinggi dengan Presiden China, Xi Jinping, serta memboyong deretan pengusaha kakap AS seperti Elon Musk hingga CEO Apple, Tim Cook.

Di balik agenda diplomasi tersebut, sebuah pemandangan unik sempat menarik perhatian media sesaat sebelum rombongan delegasi Gedung Putih naik ke pesawat kepresidenan Air Force One untuk bertolak kembali ke Washington.

Jurnalis senior The New York Times, Emily Goodin, membeberkan bahwa staf khusus Gedung Putih mengeluarkan instruksi ketat agar seluruh barang, cinderamata, ataupun material yang diperoleh selama berada di daratan China dilarang keras untuk dimasukkan ke dalam kabin pesawat Air Force One. Seluruh barang tersebut terpaksa ditinggal atau dibuang di area bandara sebelum rombongan memasuki pesawat.

BACA JUGA:
Sering Tersakiti, Mayoritas Warga Eropa Ingin Pisah dari AS

Meskipun terkesan drastis, para pengamat intelijen menyebut praktik pembersihan total ini merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan hayati dan siber yang lazim diterapkan oleh Dinas Rahasia (Secret Service) AS.

Protokol sterilisasi ketat ini secara berkala wajib dilakukan setiap kali rombongan presiden mengunjungi negara-negara yang dinilai bukan merupakan mitra strategis utama atau memiliki tensi geopolitik tinggi dengan Washington, guna menangkal potensi penyusupan alat sadap maupun spionase teknologi.[]

TERKAIT LAINNYA