KETIKKABAR.com – Permintaan Internasional untuk Teknologi Militer Israel Meningkat Tajam di Tengah Konflik Gaza dan Lebanon.
Para eksekutif perusahaan rintisan (startup) Israel mengklaim adanya lonjakan permintaan internasional untuk senjata dan sistem pertahanan yang diproduksi oleh perusahaan mereka.
Menurut laporan Washington Post, serangan militer Israel terhadap Gaza dan Lebanon, serta serangan terhadap kelompok Hizbullah, telah memicu permintaan signifikan terhadap senjata dan teknologi yang digunakan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Startup Nation Central mencatatkan bahwa perusahaan-perusahaan rintisan Israel berhasil menarik investasi sebesar USD 15,6 miliar pada tahun 2025, meningkat tajam dibandingkan dengan USD 12 miliar pada tahun 2024. Para pengamat industri memprediksi tren positif ini akan terus berlanjut.
Peningkatan permintaan terhadap teknologi militer Israel ini kontras dengan sikap sejumlah negara Eropa yang mengkritik kebijakan Israel di Gaza.
Beberapa negara, termasuk Inggris, Italia, Spanyol, Kanada, Belgia, dan Belanda, telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi atau bahkan menghentikan ekspor senjata ke Israel, karena khawatir senjata tersebut dapat digunakan untuk melanggar hukum humaniter internasional.
“Ada pemerintah yang secara terbuka menunjukkan kepedulian palsu tentang Gaza, untuk menenangkan masyarakat, sementara di sisi lain mereka mengirimkan pimpinan pertahanan mereka untuk berbicara dengan perusahaan-perusahaan Israel guna melindungi wilayah yang sama,” ujar Aaron Kaplowitz, pendiri 1948 Ventures, sebuah perusahaan modal ventura asal Miami yang berinvestasi dalam teknologi militer Israel.
Di tengah lonjakan permintaan ini, beberapa laporan juga mengungkapkan kontroversi seputar keterlibatan perusahaan teknologi besar dalam konflik tersebut.
Washington Post sebelumnya melaporkan bahwa Google diduga telah melanggar kebijakan internalnya yang melarang penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk senjata atau pengawasan.
Google dilaporkan telah membantu kontraktor militer Israel dalam menganalisis rekaman drone menggunakan teknologi AI Gemini, meskipun perusahaan tersebut mengklaim secara terbuka untuk menjauh dari hubungan dengan militer Israel.
Menurut seorang mantan karyawan Google, teknologi AI Gemini digunakan oleh Pasukan Pertahanan Israel pasca serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, yang menyebabkan pemboman dan invasi darat Israel ke Gaza.
Hingga kini, lebih dari 71.000 warga Palestina dikabarkan tewas dalam invasi ini, dengan sebagian besar penduduk Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka. []
Ketegangan di Selat Hormuz: Enam Kapal Garda Revolusi Iran Hadang Tanker AS




















