Ekonomi

Bank Indonesia Aceh Luncurkan Modul Digitalisasi Sistem Pembayaran untuk Mahasiswa Baru USK

KETIKKABAR.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Aceh berkolaborasi dengan sejumlah instansi meluncurkan Modul Digitalisasi Sistem Pembayaran.

Peluncuran ini dilakukan pada hari kedua kegiatan Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (Pakarmaru) Universitas Syiah Kuala (USK) tahun 2025 di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh.

Modul ini diharapkan menjadi panduan pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami sistem pembayaran nasional di era digital.

Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto
Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Penyusunannya merupakan sinergi antara Kantor Perwakilan BI Aceh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh, Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Kantor Wilayah Aceh, serta tiga perguruan tinggi terkemuka di Aceh: USK, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UINAR), dan Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha).

Peluncuran modul ini secara resmi dilakukan oleh Kepala Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., Wakil Rektor 3 UINAR, Prof. Dr. Mursyid Jawas, M.Hi., dan Wakil Rektor 3 Unmuha, Dr. Mirza Murni, SE., MM., serta perwakilan dari OJK dan DJPb Aceh.

Dalam kesempatan yang sama, Agus Chusaini juga menjadi narasumber di hadapan 8.082 mahasiswa baru USK. Ia membawakan materi bertajuk “Literasi Keuangan dan Kehidupan di Era Digitalisasi: Prospek, Tantangan, dan Hambatan.”

Menurut Agus, transformasi digital di sektor ekonomi dan keuangan nasional akan terus melaju pesat. Hal ini didorong oleh tiga faktor strategis, yaitu meningkatnya partisipasi generasi milenial, Z, dan Alpha dalam perekonomian; inovasi pembayaran digital yang masif; dan semakin kuatnya interkoneksi pembayaran lintas negara.

BACA JUGA:
Pertamina Patra Niaga Resmi Naikkan Harga LPG Nonsubsidi 5,5 Kg dan 12 Kg, Berikut Daftar Harga Terbarunya

“Indonesia saat ini memiliki demografi digital yang besar, dengan 53,81 persen populasi adalah generasi milenial dan Gen Z yang cakap teknologi,” jelas Agus. Ia menambahkan bahwa penetrasi smartphone di Indonesia menduduki peringkat keempat terbanyak di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Agus memaparkan, data menunjukkan pengguna kartu debit/kredit mencapai 270 juta, akun uang elektronik 756 juta, dan akun mobile banking 711 juta. Potensi ini menjadi modal utama dalam membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif dan berdaya saing.

Perkembangan ini mendorong pesatnya pertumbuhan fintech dan e-commerce. Pada tahun 2024, transaksi QRIS secara nasional meningkat 49,4 persen (YoY) dan BI-FAST melonjak 81,3 persen, menandakan tingginya adopsi masyarakat terhadap layanan pembayaran digital.

Agus menyebut QRIS sebagai game changer sistem pembayaran karena mampu menyatukan berbagai QR code pembayaran menjadi satu standar nasional yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.

Selain itu, QRIS Cross Border kini mempermudah transaksi lintas negara, khususnya untuk pariwisata dan perdagangan UMKM, serta mendukung penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

BACA JUGA:
Dorong Konsumen Cerdas, BSI Perkuat Literasi dan Digitalisasi Layanan yang Aman dan Inklusif

Meskipun prospek digitalisasi sangat menjanjikan, Agus juga mengingatkan adanya tantangan yang perlu diwaspadai. Survei menunjukkan Indeks Literasi Digital Indonesia berada di angka 3,54 dari skala 5, dengan tingkat kesadaran masyarakat terhadap Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang masih rendah.

Risiko lainnya yang muncul adalah meningkatnya shadow banking, impor barang konsumsi berlebihan, risiko siber, penipuan (fraud) dengan modus social engineering, persaingan usaha tidak sehat, hingga penyalahgunaan data pribadi.

Oleh karena itu, penguatan infrastruktur pembayaran, kolaborasi industri, dan perlindungan konsumen menjadi kunci.

Untuk mengatasi hal tersebut, Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 yang diusung Bank Indonesia bertujuan mendukung integrasi ekonomi-keuangan digital nasional, menjamin interkoneksi antara fintech dan perbankan, serta menjaga keseimbangan antara inovasi, perlindungan konsumen, integritas, stabilitas, dan persaingan usaha yang sehat.

“Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada sinergi semua pihak, regulator, pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ekosistem yang inklusif, aman, dan berkelanjutan,” tutup Agus.

Ia juga mengajak para mahasiswa, khususnya di Aceh, untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan data pribadi, menggunakan produk keuangan secara bijak, dan berkontribusi aktif dalam mendorong kemajuan ekonomi digital Indonesia.[]

TERKAIT LAINNYA