KETIKKABAR.com – Para pemimpin gereja paling senior di Palestina mengunjungi kota Kristen Taybeh di Tepi Barat pada Senin (14/7/2025), sebagai bentuk solidaritas atas meningkatnya kekerasan terhadap komunitas Kristen yang diduga dilakukan oleh pemukim Yahudi ekstremis Israel.
Kunjungan ini dilakukan menyusul sejumlah serangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk aksi pembakaran di dekat reruntuhan Gereja Santo George.
Kota Taybeh sendiri merupakan satu dari sedikit kota di Palestina yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.
Dalam pernyataan bersama, Patriark Theophilos III dari Gereja Ortodoks Yerusalem dan Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, mengecam keras tindakan para pemukim dan menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap warisan Kristen di wilayah tersebut.
“Dewan Patriark dan Kepala Gereja menyerukan agar para radikal ini dimintai pertanggungjawaban oleh pihak berwenang Israel, yang memfasilitasi dan mengizinkan kehadiran mereka di sekitar Taybeh,” kata keduanya dalam pernyataan resmi.
Mereka juga mendesak penyelidikan menyeluruh dan transparan terhadap kelalaian aparat penegak hukum Israel, yang disebut gagal merespons panggilan darurat selama serangan terjadi.
“Kenapa polisi tidak datang? Kenapa kekejian ini terus dibiarkan terjadi?” lanjut mereka.
Selama konferensi pers yang digelar di Taybeh, Pizzaballa menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya kecenderungan umat Kristen Palestina untuk beremigrasi karena kekerasan dan ketidakpastian yang mereka hadapi setiap hari.
“Sayangnya, godaan untuk beremigrasi ada karena situasi yang ada. Saat ini sangat sulit untuk melihat harapan, terutama bagi generasi muda,” ujarnya.
Baca juga: Brigitte Macron Ajukan Kasasi Usai Pengadilan Bebaskan Penyebar Hoaks Soal Identitas Gendernya
Ia mengaku telah menghubungi otoritas Israel terkait insiden ini dan menerima janji akan dilakukan penyelidikan. Namun ketika ditanya apakah ia yakin akan ada tindakan hukum yang adil, Pizzaballa menjawab, “Saya ragu, tapi saya berharap demikian.”
Warga Taybeh yang hadir juga menyampaikan keluhan langsung kepada kedua pemimpin gereja tersebut.
Jawis Awad, seorang peternak ayam, mengatakan bahwa aktivitasnya terganggu akibat intimidasi dari para pemukim yang bahkan mencoba mencuri mobilnya dan memasang penghalang jalan di wilayah pertanian.
Seorang petani zaitun mengaku tak lagi bisa mengakses kebunnya karena takut diserang.
Sementara itu, Hamdallah Bearat, warga desa Kafr Malik yang bertetangga dengan Taybeh, menggambarkan situasi saat ini sebagai “mimpi buruk”. Ia menyinggung pembantaian di Gaza dan penyerangan oleh sekitar 100 pemukim ke desanya bulan lalu yang menewaskan tiga warga Palestina dan melukai tujuh lainnya.
“Mereka (pemukim) merambah tanah kami, menggembalakan domba di antara pohon-pohon alpukat dan zaitun, tujuannya jelas: menghancurkan sumber penghidupan kami,” kata Bearat.
Ia juga mengkritik respons aparat keamanan Israel yang disebut tidak adil dalam menangani laporan warga Palestina.
“Saya ditanya, ‘Apa buktinya ini tanah saya?’ Tapi mereka tidak pernah bertanya pada pemukim: ‘Apa hakmu di sini?’ Ini bukan lagi soal hukum. Ini soal pembersihan etnis. Tidak ada penjelasan lain,” tegasnya.
Seruan para pemimpin gereja ini mempertegas kekhawatiran komunitas internasional mengenai perlakuan terhadap minoritas Kristen di Palestina, serta meningkatnya ketegangan antar komunitas di wilayah pendudukan.[]


















