Internasional

“Trump Bisa Dihabisi Saat Berjemur”: Iran Luncurkan Pakta Darah Bernilai Miliaran

KETIKKABAR.com – Said Javad Larijani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, melontarkan pernyataan mengejutkan soal kemungkinan membunuh mantan Presiden AS Donald Trump.

Dalam wawancara dengan televisi Iran yang dilansir Iran International, Larijani berkata, “Trump telah melakukan sesuatu yang membuat dia tak bisa lagi berjemur di Mar-a-Lago. Saat ia tengkurap menghadap matahari, drone kecil mungkin menghantam pusarnya. Itu sangat sederhana.”

Pernyataan ini muncul tak lama setelah diluncurkannya kampanye penggalangan dana kontroversial bernama “Pakta Darah”.

Kampanye ini bertujuan menghimpun dana 100 juta dolar AS untuk “menuntut balas kepada mereka yang mengancam atau mengolok-olok Pemimpin Tertinggi Khamenei.”

Situs penggalangan dana tersebut bahkan telah berhasil mengumpulkan 40 juta dolar AS. Identitas pengelolanya masih belum diketahui.

Dalam pernyataannya, situs itu menegaskan, “Kami menjanjikan hadiah kepada siapa pun yang bisa membawa musuh Tuhan dan mereka yang mengancam nyawa Khamenei ke pengadilan.”

Sebelumnya, dua ulama senior Iran, Ayatollah Nasser Makarem Shirazi dan Ayatollah Hossein Nouri-Hamedani juga menerbitkan fatwa kematian atas siapa pun yang mengancam keselamatan Khamenei.

BACA JUGA:
Update Gempa Venezuela: 188 Orang Tewas, Ribuan Luka-luka

Fatwa itu menyatakan bahwa ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi dianggap sebagai moharebeh, atau “memerangi Tuhan”, yang dalam yurisprudensi Islam berujung pada hukuman mati.

Pernyataan Larijani dan fatwa para ulama merupakan respons atas serangkaian ancaman yang dilontarkan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

Trump bahkan pernah menyebut Khamenei sebagai “target mudah.” Netanyahu pun beberapa kali menyiratkan bahwa pembunuhan Khamenei bisa menjadi akhir dari konflik.

Ketegangan memuncak setelah Israel melancarkan serangan pada 13 dan 24 Juni yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran. Amerika Serikat juga terlibat, dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni.

Meski demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba mengambil jarak dari retorika keras tersebut.

Dalam wawancara bersama Tucker Carlson, ia menyatakan bahwa fatwa tersebut “tidak ada hubungannya dengan pemerintah Iran atau Pemimpin Tertinggi.”

BACA JUGA:
Serangan Drone Besar-besaran Guncang Israel Utara, Fasilitas Militer di Haifa Rusak

Namun, media pro-Khamenei seperti Kayhan langsung membantah klaim Pezeshkian. Mereka menegaskan bahwa fatwa itu adalah “aturan agama” yang sah dan wajib ditegakkan demi menjaga kehormatan pemimpin spiritual tertinggi Iran.

Dukungan terhadap Khamenei juga datang dari luar negeri. Senator Pakistan, Allama Raja Nasir Abbas Jafari, memperingatkan bahwa pembunuhan terhadap Khamenei bisa memicu respons besar dari dunia Islam, termasuk dari Pakistan.

Ia menyebut Khamenei sebagai “pemimpin spiritual dan politik, serta seorang Marja (otoritas religius) bagi umat Muslim.”

Situasi semakin memanas setelah Khamenei akhirnya muncul ke publik pada Kamis (26/6/2025), untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang Iran-Israel selama 12 hari.

Dalam pidato nasional, Khamenei menyatakan bahwa Iran telah menang melawan Israel dan menuding Amerika Serikat terpaksa ikut campur untuk menyelamatkan “rezim Zionis”.

“Rezim AS telah masuk ke medan perang secara langsung karena jika tidak, Israel akan sepenuhnya dihancurkan,” ujar Khamenei dalam siaran langsung televisi nasional Iran.[]

TERKAIT LAINNYA