KETIKKABAR.com – Ketegangan Timur Tengah terus memanas. Kali ini, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di tengah eskalasi konflik Iran-Israel.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump mengklaim mengetahui lokasi persembunyian Khamenei, dan menyatakan AS bisa menghabisinya kapan saja.
“Dia adalah sasaran empuk… tapi kami tidak akan membunuhnya, setidaknya untuk saat ini,” tulis Trump dini hari tadi.
“Kami tidak ingin rudal diarahkan ke warga sipil atau tentara Amerika. Kesabaran kami semakin menipis.”
Trump juga menyerukan penyerahan tanpa syarat dari Iran, sembari menggembar-gemborkan “kendali penuh atas langit Teheran”.
Baca juga: Bertahan dari Bom, Drone, dan Konspirasi: Ali Khamenei Kembali Muncul
Tanggapan keras pun datang dari Khamenei. Lewat platform X (sebelumnya Twitter), ia menyatakan:
“Atas nama Haidar yang mulia, pertempuran dimulai.”
Haidar adalah julukan untuk Ali bin Abi Thalib, tokoh sentral dalam sejarah Islam yang juga simbol keberanian dan perlawanan.
Trump dilaporkan mempercepat kepulangannya dari KTT G-7 di Kanada untuk melakukan rapat darurat keamanan nasional.
Beberapa opsi sedang dikaji, termasuk kemungkinan serangan langsung ke fasilitas nuklir Iran, seperti Fordow yang terletak di bawah gunung dan sulit dijangkau tanpa bom bunker-buster milik AS.
“Kami menunggu keputusan Presiden,” kata seorang pejabat senior Israel kepada CNN.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berharap Trump akan memberikan dukungan tanpa perlu diminta secara formal.
Baca juga: Iran Ancam Bakar Pangkalan AS! “Perang Akan Menyebar ke Seluruh Timur Tengah”
Ancaman tak hanya datang dari AS. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa jika Iran tidak mundur:
“Penghancuran total program nuklir Iran akan menjadi agendanya, dan itu tidak bisa dilakukan Israel sendirian.”
Kubu tandingan pun mulai menyiapkan langkah diplomatik dan militer.
-
Presiden China Xi Jinping menyatakan kekhawatiran terhadap tindakan militer Israel dan menegaskan bahwa China menolak pelanggaran kedaulatan negara mana pun.
-
China juga mulai mengevakuasi warganya dari kawasan konflik dan menyerukan gencatan senjata segera.
-
Putin dan Erdogan sepakat memperkuat koordinasi militer melalui kementerian luar negeri dan pertahanan masing-masing.
Baca juga: Korut Siap Kirim Dukungan Militer ke Iran: “Israel Akan Dibayar Mahal”
Sementara itu, Moskow mengecam serangan Israel, menyebutnya ilegal dan menyerukan penyelesaian diplomatik. Rusia juga meminta IAEA mengevaluasi potensi kerusakan pada fasilitas nuklir Iran akibat serangan tersebut.
“Iran tetap menjadi penandatangan NPT. Israel tidak,” tulis Kemenlu Rusia via Telegram.
Konflik juga mengguncang hubungan besar dunia. Proses normalisasi antara Rusia dan AS ditunda.
“AS mengusulkan untuk menundanya,” ungkap Ajudan Presiden Putin, Yury Ushakov, kepada TASS.[]

















