Internasional

Bertahan dari Bom, Drone, dan Konspirasi: Ali Khamenei Kembali Muncul

KETIKKABAR.com  – Di tengah kobaran perang yang menewaskan ratusan jiwa dan menghancurkan kota-kota di Iran, sosok Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei kembali muncul ke publik membawa pesan perlawanan sekaligus menantang upaya pembunuhan terhadapnya yang tak kunjung berhenti.

Dengan senapan di sampingnya, Khamenei memimpin salat Jumat pertamanya sejak 2020, di Teheran sebuah penampilan langka yang disebut-sebut sebagai isyarat bahwa ia masih memegang kendali penuh atas Iran, di saat negeri itu berperang secara terbuka melawan Israel.

Namun, kemunculan ini tak hanya menjadi simbol perlawanan. Ia adalah bukti bahwa Khamenei telah selamat dari berbagai upaya pembunuhan, konspirasi global, hingga operasi militer senyap.

Netanyahu: Membunuh Khamenei adalah Solusi Perang

Kabar mengejutkan datang dari Yerusalem. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan telah mengusulkan misi pembunuhan terhadap Khamenei sebagai jalan cepat menghentikan perang Iran-Israel yang kini memasuki hari keempat.

Namun, rencana ini ditolak mentah-mentah oleh Presiden AS, Donald Trump.

“Presiden Trump menentang rencana itu,” ujar seorang pejabat tinggi AS kepada Reuters, Senin (16/6/2025).

Baca juga: China dan India Tarik Warganya dari Israel & Iran, Situasi Makin Panas

Dalam wawancara dengan Fox News, Netanyahu memberi jawaban menggantung soal penolakan Trump.

“Saya tidak akan membahasnya. Tapi kami akan melakukan apa yang perlu kami lakukan,” kata Netanyahu, penuh isyarat ancaman.

BACA JUGA:
Trump Tolak Proposal Gencatan Senjata Iran, Sebut Dokumen "Sampah"

Sejarah Panjang Upaya Pembunuhan terhadap Khamenei

Khamenei bukanlah sosok yang asing terhadap ancaman kematian. Ia selamat dari bom, drone, hingga konspirasi global yang dirancang untuk menghentikan pengaruhnya atas Iran dan dunia Syiah.

1981 – Pengeboman yang Melumpuhkan Tangannya

Pada 27 Juni 1981, bom meledak di markas besar Partai Republik Islam saat Khamenei berbicara.
Lengan kanannya lumpuh permanen akibat serangan yang didalangi kelompok oposisi Mujahedeen-e-Khalq (MEK).

Namun, insiden itu justru mendorongnya naik lebih tinggi, menjadi figur sentral revolusi.

1985 – Serangan Bom Bunuh Diri Saat Salat Jumat

Pada 15 Maret 1985, seorang pengebom menargetkan jemaah salat Jumat saat Khamenei berkhotbah. Meski terjadi ledakan, ia tetap berdiri dan menyelesaikan khutbahnya.

2022 – Drone Pembunuh di Atas Langit Teheran

Laporan intelijen menyebut ada upaya pembunuhan menggunakan drone pada Februari 2022.
Meski pemerintah Iran bungkam, informasi ini memicu kekhawatiran akan ancaman eksternal yang semakin canggih.

Upaya yang Tak Pernah Berakhir

Beberapa percobaan pembunuhan lainnya tak pernah terkonfirmasi, namun bayang-bayang ancaman terhadap nyawanya selalu hadir, baik dari oposisi dalam negeri, kelompok separatis, maupun kekuatan asing.

Khamenei Melawan dari Garis Depan

Dalam khutbahnya yang menggelegar pekan ini, Khamenei menyebut serangan rudal Iran ke Israel sebagai “hukuman yang sah atas kejahatan Israel”. Ia berjanji Iran tidak akan berhenti, bahkan jika para pemimpin militernya dibunuh.

BACA JUGA:
Sering Tersakiti, Mayoritas Warga Eropa Ingin Pisah dari AS

“Jika diperlukan, Iran akan menyerang Palestina yang diduduki lagi,” ujarnya.

Ia juga mengecam Israel atas serangan udara brutal yang menewaskan lima jenderal IRGC dan sembilan ilmuwan nuklir di Teheran.

“Kami tidak akan berbelas kasih. Hidup mereka akan menyedihkan,” tegasnya.

Perang yang meletus sejak 14 Juni telah menewaskan sedikitnya 224 orang di Iran dan 13 orang di Israel, meski laporan HAM menyebut angka di Iran bisa mencapai 406 korban tewas dan 654 luka-luka.

Baca juga: Pakistan Pasang Badan: “Kami Akan Berdiri Bersama Iran!”

Serangan Israel menyasar pemimpin-pemimpin militer dan ilmuwan Iran, diduga untuk membatasi kemampuan balas dendam dan rekonstruksi nuklir Iran.

Namun, balasan Iran pun tak kalah keras, menghantam situs militer dan pusat strategis di Israel. “Kami akan mengalahkan rezim Zionis, dengan izin Tuhan,” ucap Khamenei dalam pesan videonya.

Meski AS menolak misi pembunuhan terhadap Khamenei, banyak pihak menilai situasi saat ini bisa memicu eskalasi global. Dengan Iran yang kini terbuka menyerang dan diserang secara langsung, garis merah di Timur Tengah tampaknya telah dilampaui.

Khamenei, yang telah menjadi target selama lebih dari empat dekade, kini kembali ke garis depan. Bukan lagi dari balik layar, tetapi di mimbar salat, dengan senapan di sisi, dan bangsa di belakangnya.[]

TERKAIT LAINNYA