KETIKKABAR.com – Di tengah dinamika kerja dan percakapan soal strategi media, Ibrahim Sjarief Assegaf, suami dari jurnalis senior Najwa Shihab, meninggalkan satu jejak kecil yang tak terduga: permintaan mengganti karpet. Sederhana. Namun kini, menjadi kenangan yang menghunjam.
Sore itu di bulan Ramadhan 2025, hanya beberapa jam sebelum berbuka puasa, Ibrahim duduk tenang dalam rapat redaksi Narasi.
Ia bukan tipe yang banyak bicara, tapi setiap kata yang diucapkan tak pernah sia-sia.
Satu setengah jam berlalu dalam diskusi serius, penuh substansi. Hingga, sebelum rapat ditutup, Ibrahim melontarkan sesuatu yang nyaris tak berarti jika tidak datang darinya:
“Karpet di ruangan ini kayaknya perlu diganti,” ucapnya pelan, datar, nyaris tanpa intonasi.
Permintaan yang terdengar ringan. Tapi bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, itu bukan sekadar tentang karpet.
Itu adalah pengingat halus: bahwa bahkan detail terkecil pun pantas mendapat perhatian.
Obrolan Terakhir di Bawah Langit Sore
Usai berbuka, seperti biasa, Ibrahim turun ke bawah untuk sebat sejenak. Di sana, ia bicara tentang hal-hal besar: soal Everest, taktik dalam kerja, dan kesadaran dalam setiap langkah.
Seorang kolega sempat bercanda, “Urusan karpet itu taktis berarti?”
Ibrahim tertawa ringan, lalu menjawab,
“Kagak. Emang kayaknya udah waktunya diganti.”
Tidak ada yang menyangka, itulah kalimat terakhirnya yang diingat banyak orang, bukan karena karpetnya, tapi karena cara Ibrahim memaknai waktu, perhatian, dan kehadiran.
Sosok yang Tak Mencari Sorotan, Tapi Menjadi Arah
Ibrahim Sjarief Assegaf bukan wajah yang muncul di layar. Tapi bagi rekan-rekannya, ia adalah penentu arah dalam diam, pemikir strategis dalam hening, dan teman bicara yang hadir dengan utuh.
“Ia bicara tentang gunung, tentang sepeda, tentang anaknya Izzat, atau soal diving,” tulis Zen RS, Pemimpin Redaksi Narasi, dalam obituari yang menyentuh.
Tak pernah ada nasihat panjang. Hanya potongan kalimat, cukup untuk diingat bahkan setelah rokok terakhir padam, dan agenda sudah selesai.
Karpet yang Sudah Diganti
Ibrahim dimakamkan pada Rabu, 21 Mei 2025, di tengah hujan yang turun deras. Langit seperti ikut melepas sunyi, berat, dan penuh rasa kehilangan.
Dalam benak Zen, ada satu kalimat yang ingin disampaikan, seandainya waktu memberi kesempatan:
“Karpetnya udah diganti, ya. Bukan karena taktis. Tapi karena sepertinya lu benar: memang sudah waktunya.”











