KETIKKABAR.com, Kuala Lumpur — Video yang memperlihatkan seorang remaja menyerang guru menggunakan senjata sejenis kapak viral di media sosial.
Insiden yang ditengarai terjadi di sebuah sekolah di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada Rabu (21/10), mendapat perhatian Menteri Pembangunan Wanita, Anak dan Kesejahteraan Komunitas Sarawak, Fatimah Abdullah.
Fatimah menyatakan keprihatinannya atas peristiwa yang melibatkan seorang remaja tersebut.
“Saya sangat sedih dan prihatin atas insiden yang melibatkan seorang remaja di sebuah sekolah di Kuching, yang belakangan ini menarik perhatian publik di media sosial,” kata Fatimah dalam keterangan yang dikutip di Kuala Lumpur, Kamis (22/10/2026).
Ia menegaskan keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga sekolah harus menjadi prioritas. Menurut dia, guru perlu menjalankan tanggung jawab dalam lingkungan yang aman, sedangkan siswa berhak belajar tanpa rasa takut terhadap kekerasan atau bahaya.
“Saya mengakui dan mengapresiasi upaya berkelanjutan para guru, pengelola sekolah, dan pihak berwenang terkait dalam melindungi guru dan siswa. Setiap insiden yang melibatkan kekerasan atau penggunaan senjata harus ditanggapi secara serius dan ditangani dengan tepat demi melindungi seluruh komunitas sekolah,” ujarnya.
Meski menekankan pentingnya keselamatan di lingkungan pendidikan, Fatimah meminta masyarakat menyikapi insiden tersebut secara hati-hati dan penuh kepedulian. Ia mengingatkan bahwa remaja yang terlibat masih berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Fatimah, perilaku yang membahayakan tetap harus ditangani. Namun, masyarakat dan pihak terkait tidak seharusnya terburu-buru menghakimi, memberikan cap negatif, atau mempermalukan seorang anak muda tanpa memahami keadaan yang melatarbelakangi kejadian tersebut.
“Tanggung jawab dan kepedulian bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Kita dapat menjaga keselamatan guru dan siswa sekaligus memastikan bahwa para remaja diperlakukan dengan bermartabat serta mendapatkan bimbingan dan dukungan yang sesuai,” kata dia.
Fatimah juga menyoroti kalimat yang dilaporkan diunggah oleh remaja tersebut di Facebook. Unggahan itu berbunyi, ‘Saya tidak punya siapa-siapa. Saya tidak memiliki pasangan. Saya tidak punya siapa pun untuk diandalkan. Saya dilahirkan sendirian dan akan meninggal sendirian.’
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak berasumsi mengenai keadaan yang mungkin sedang dialami remaja tersebut. Meski begitu, ungkapan kesepian dan keterasingan, menurut dia, tidak boleh diabaikan.
Fatimah menegaskan setiap anak berhak merasa dihargai, didengar, dan mendapat dukungan. Ketika seorang anak muda mengatakan, ‘Saya tidak punya siapa-siapa,’ respons yang diberikan seharusnya membantu mereka memperoleh dukungan yang dibutuhkan, bukan memperdalam rasa keterasingan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mengunggah, membagikan, atau menyebarluaskan video penyerangan tersebut di media sosial. Menurut Fatimah, penyebaran rekaman itu dapat melanggar hak anak serta menimbulkan tekanan emosional lebih lanjut bagi pihak-pihak yang terlibat.
Selain itu, video tersebut berisiko membuat mereka menjadi sasaran perundungan daring dan mengancam privasi serta martabat.
“Setelah disebarluaskan, rekaman itu dapat menyebar dengan cepat dan tetap dapat diakses jauh setelah insiden terjadi,” jelasnya.
Fatimah menegaskan media sosial tidak seharusnya menjadi sarana untuk mempermalukan seseorang di depan umum atau mengadili berdasarkan opini publik.
Ia meminta masyarakat menahan diri, menghindari spekulasi, dan menyerahkan informasi yang relevan kepada pihak berwenang daripada menyebarluaskan rekaman insiden tersebut. []











