Ekonomi

ISEF 2026 Jadi Panggung UMKM Aceh, Produk Halal hingga Wisata Iboih Didorong Tembus Pasar Global

KETIKKABAR.com, Jakarta — Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 menjadi panggung bagi enam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Aceh untuk memperkenalkan produk halal dan modest fesyen ke pasar yang lebih luas.

Ajang ekonomi dan keuangan syariah yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) itu juga menampilkan Desa Wisata Iboih, Kota Sabang, sebagai destinasi pariwisata ramah muslim.

Melalui dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Aceh, pelaku UMKM dari Tanah Rencong membawa beragam produk unggulan, mulai dari tenun dan busana muslim hingga cokelat khas Aceh.

Partisipasi ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya dan identitas Aceh sekaligus memperkuat daya saing produk daerah dalam ekosistem ekonomi syariah nasional.

Enam UMKM Aceh yang terpilih melalui program Industri Kreatif Syariah (IKRA) untuk tampil dalam pameran ISEF 2026 terdiri atas Tenun Kutaradja, Ija Kroeng, Salsabilaocaa, dan Sararizqa dari kategori modest fesyen, serta Coklat Sabang dan Ulunowih dari kategori makanan halal.

Program IKRA turut mendampingi pelaku usaha agar siap memasuki industri halal, mulai dari penataan proses bisnis dan logistik hingga pengurusan sertifikasi serta pemenuhan prinsip syariah.

Kehadiran produk Aceh tidak hanya terbatas pada area pameran. Produk unggulan dari Bitata Food, Capli, Socolatte, dan Gayoland Coffee juga dipasarkan melalui Halal Mart. Beragam produk tersebut memperlihatkan potensi usaha lokal Aceh untuk menjangkau pasar nasional.

Selain produk UMKM, Aceh memperkenalkan potensi pariwisatanya melalui Desa Wisata Iboih di Kota Sabang. Destinasi tersebut ditampilkan dalam kategori Pariwisata Ramah Muslim untuk memperluas pengenalan kekayaan alam dan budaya Aceh kepada masyarakat.

KPw BI Aceh juga memfasilitasi keterlibatan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Aceh dalam Forum Sinergi Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Ekonomi Syariah.

Forum ini menjadi ruang bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan Aceh untuk memperkenalkan potensi daerah serta memperkuat keterlibatan dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional.

ISEF 2026 Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah

ISEF ke-13 mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.

BACA JUGA:  Bank Aceh Bersama Jaringan PRIMA Perluas Layanan Transaksi Digital dan Inklusi Keuangan Syariah

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat rantai nilai halal, memperdalam pasar keuangan syariah, mengoptimalkan keuangan sosial syariah, serta memperluas inklusi melalui transformasi digital.

ISEF 2026 dibuka secara resmi oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dradjad Hari Wibowo pada 14 Oktober 2026 di JICC, Jakarta.

Penyelenggaraan tahun ini melibatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta mitra strategis nasional dan internasional.

Lebih dari 1.000 pelaku industri halal berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan yang mencakup lebih dari 100 agenda secara luring dan daring.

Sejumlah kegiatan tersebut meliputi business matching perdagangan dan wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum nasional dan internasional yang membahas industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, dan pariwisata ramah muslim.

Untuk memperluas jangkauan kegiatan, ISEF 2026 menghadirkan tiga kebaruan, yakni kolaborasi dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, pemanfaatan teknologi digital imersif, serta perluasan partisipasi lintas generasi dan negara.

Salah satu upaya menjangkau generasi muda dilakukan melalui kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island di platform Roblox.

Kedua inisiatif tersebut memperkenalkan ekonomi dan keuangan syariah melalui ruang digital yang dekat dengan generasi muda.

Bank Indonesia Luncurkan Tiga Program Unggulan

Dalam momentum ISEF 2026, Bank Indonesia meluncurkan tiga program untuk memperkuat pasar keuangan syariah, tata kelola zakat, dan pengembangan sumber daya manusia.

Program pertama adalah Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pedoman transaksi pasar keuangan syariah yang disusun oleh Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO), IIGMA, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperkuat integritas serta efisiensi pasar.

Kedua, Indeks Penerapan Prinsip Utama Zakat 2.0 atau Zakat Core Principles (ZCP), hasil pembaruan BAZNAS dan Bank Indonesia yang menambahkan dimensi manajemen risiko untuk memperkuat tata kelola zakat.

Ketiga, program beasiswa internasional yang mendukung pendidikan mahasiswa asing melalui dana sosial syariah.

Program ini diharapkan membantu mencetak sumber daya manusia unggul, mengoptimalkan pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) secara produktif, serta memperluas pengenalan ekonomi syariah.

Ketiga program tersebut menjadi bagian dari dukungan Bank Indonesia terhadap visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia, sejalan dengan Asta Cita dan RPJMN 2025–2029.

BACA JUGA:  Wagub Dek Fadh Terima Audiensi Kepala Perwakilan BI Aceh

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, melalui sambutan yang disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, menyatakan ekonomi syariah memiliki peluang besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia.

Peluang itu didukung proyeksi belanja masyarakat muslim global yang diperkirakan mencapai US$ 3,56 triliun pada 2029.

Untuk mengoptimalkannya, pemerintah mendorong penguatan industri halal dan UMKM, perluasan ekspor serta kerja sama internasional, dan pengembangan keuangan serta dana sosial syariah.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Indonesia Bertahan di Peringkat Keempat Ekonomi Syariah Global

Daya saing Indonesia dalam ekonomi syariah global terus diperkuat. Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia bertahan di peringkat keempat dunia.

Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 tercatat mencapai US$ 7,7 miliar di pasar global dan Rp 108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.

“Capaian ini menjadi fondasi, bukan garis akhir, karena masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi, sehingga diperlukan akselerasi melalui sinergi dan transformasi digital,” ujar Destry.

ISEF 2026 merupakan bagian dari rangkaian pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang sebelumnya telah berlangsung melalui Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (FESyar) pada Juni hingga September 2026 di tiga wilayah, yakni Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur.

Masyarakat dapat mengunjungi ISEF 2026 di JICC atau mengakses informasi melalui situs www.isef.co.id dan aplikasi ISEFun di https://apps.isef.co.id.

Melalui kolaborasi pemerintah, otoritas, pelaku industri, dan UMKM daerah, ISEF diharapkan menjadi salah satu penggerak penguatan ekosistem industri halal Indonesia menuju pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. []

TERKAIT LAINNYA