Internasional

Demo Prancis Berujung Penjarahan, Macron Kumpulkan Menteri dan Siapkan Pidato Darurat

KETIKKABAR.com, Jakarta — Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menyampaikan pidato pada pukul 18.00 GMT, Minggu, 18 Oktober 2026, setelah demonstrasi yang dipicu kekhawatiran biaya hidup berakhir ricuh dan diwarnai pembakaran serta penjarahan.

Sebelum berpidato, Macron dijadwalkan menggelar pertemuan dengan sejumlah menteri untuk membahas situasi dan dampak kerusuhan di berbagai wilayah Prancis.

Dilansir AFP, Minggu (18/10/2026), pihak Istana Elysee menyatakan Macron akan menyampaikan pidato setelah pertemuan tersebut. Pemerintah kini menghadapi tekanan untuk menangani dampak kerusuhan yang terjadi dalam demonstrasi pada Sabtu.

Sementara itu, Reuters melaporkan seorang pengunjuk rasa meninggal dunia akibat henti jantung ketika demonstrasi berlangsung di Paris.

Menteri Dalam Negeri Prancis mengatakan polisi telah menahan sekitar 1.800 orang di seluruh negeri. Lebih dari 500 personel kepolisian juga dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

BACA JUGA:  Karhutla Kalimantan Bikin Malaysia Geram, Legislator Desak Sikap Keras ke Indonesia

Sebelumnya, Macron menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan dan penjarahan.

“mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota akan dituntut dan dihukum”.

Para menteri menuding kelompok “ultra-kiri” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut. Kerusuhan ini terjadi sekitar enam bulan sebelum pemilihan umum yang akan menentukan penerus Macron.

Biaya Hidup Picu Gelombang Demonstrasi

Demonstrasi nasional pada Sabtu dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup.

Aksi tersebut juga berlangsung setelah gelombang protes selama empat pekan oleh para siswa sekolah menengah, yang dalam beberapa kesempatan sebelumnya turut berujung pada kekerasan.

Tekanan ekonomi di Prancis tidak terlepas dari kenaikan harga bahan bakar dan inflasi yang meningkat di berbagai negara. Kondisi tersebut dikaitkan dengan konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026.

BACA JUGA:  Kabut Asap Selimuti Banda Aceh, Ketua DPRK Minta Wali Kota Pertimbangkan Sekolah Daring dan Rumah Sakit Siaga

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Prancis harus menghadapi dampak kerusuhan sekaligus merespons keresahan masyarakat terkait kondisi ekonomi.

Macron juga dijadwalkan berangkat pada Senin untuk melakukan kunjungan selama tiga hari ke empat negara Arab di kawasan Teluk. Negara-negara tersebut turut terdampak oleh konflik di Timur Tengah.

Kunjungan itu berlangsung ketika pemerintah Prancis menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni penanganan kerusuhan dalam negeri dan dampak ekonomi dari konflik regional yang turut memengaruhi harga energi serta biaya hidup masyarakat. []

TERKAIT LAINNYA